Rabu, 22 Mei 2013

    1. BIBIT, BEBET dan BOBOT
      Untuk memperoleh hasil yang maksimal dari berkebun khususnya kebun kelapa sawit, tentunya kita harus memahami ilmu dasar ini, karena tiga kata ini kunci utama untuk menentukan tujuan dari yang kita cita-citakan. Jika tiga kata ini sudah dipahami dan dilaksanakan dengan benar kita bisa memimalisir kerugihan dalam segala hal (waktu, biaya dll).
      • BIBIT adalah rupa (harafiah: asal-usul, keturunan atau bibit pula seperti dalam bahasa Indonesia), begitu juga dengan halnya bekebun kelapa sawit, kita harus tahu dan jelas untuk hal ini, karena salah dalam langkah awal ini, sudah sangat pasti akan banyak kerugian yang ditimbulkan. untuk penjelasan bibit yang bagus dan menguntungkan  baik dari pihak petani maupun pihak pengelolah (PMKS) akan dibahas lebih lanjut..
      • BEBET adalah keluarga, lingkungan, dengan siapa teman-temannya, ibarat air putih dalam gelas jika kita teteskan tinta warna hitam air tersebut akan berubah warna dan terkontaminasi, ditahap kedua ini kita harus jeli dan teliti apakah bibit yang kita pilih benar-benar terjaga keabsahannya/keasliannya, perkawinannya/persilangannya, induknya serta lingkungan/wilayah pembibitannya.
      • BOBOT adalah nilai pribadi atau diri yang bersangkutan, dalam tahap akhir ini sudah sangat jelas jika Bibit dan bebet sudah benar, maka Bobotnya sudah tidak diragukan lagi, ingat nilai jual dari BIBIT dan BEBET kelapa sawit itu sangat tinggi.
       2. TOPAZ dan MARIHAT
      • Topaz

      Varietas unggul kelapa sawit DxP Topaz telah memperoleh izin pelepasan varietas sesuai surat keputusan Menteri Pertanian RI No.57,58,59,dan 60/KPTS/SR,120/I/2004, masing-masing tertanggal 16 Januari 2004.

      Dalam melakukan proses seleksi benih, Menggunakan tetua dura terseleksi sejumlah 228 keturunan inbred lines dura Deli (DxD) yang berasal dari lembaga riset ternama seperti Mardi Serdang (Malaysia), OPRS Banting (Malaysia), OPRS Dami (Papua New Guinea), Stasiun Riset Chemara (Malaysia), Socfin Johor Labis (Malaysia), dan San Alejo (Honduras), serta tetua pisifera terseleksi sejumlah 50 keturunan yang berasal dari AVROS H&C (Malaysia), AVROS Dami (PNG), Ghana & Nigeria (Kade-Ghana), Ekona, La Me dan Yangambi (IRHO / CIRAD).

      Proses pengumpulan tepung sari dari tetua pisifera dan penyerbukan pada bunga betina dilakukan dengan ketelitian yang sangat tinggi. Kemudian dilanjutkan dengan menjaga kemurnian benih yang dihasilkan. Standar seleksi yang tinggi dan kontrol kualitas yang ketat akan memberikan jaminan bahan tanaman yang dihasilkan berkualitas tinggi .Jaminan kualitas diwujudkan melalui implementasi Sistem Manajemen Mutu ISO 9001:2000, selain itu untuk jaminan ramah lingkungan, Asian Agri Group telah menerapkan Sistem Manajemen Lingkungan ISO 14001:2004.

      Penelitian telah dilakukan oleh OPRS Topaz terhadap sejumlah 440 projeni DxP yang berasal dari persilangan antara 223 dura Deli dengan 50 pisifera pada 3 lokasi dengan jenis tanah berbeda yaitu : tanah organik / alluvial, gambut dangkal dan gambut dalam, dengan luas areal percobaan lebih dari 600 hektar di Sumatera Utara dan Riau dengan total areal seluas 25 % berada di tanah organik/ alluvial dan 75 % pada tanah gambut.

      Selain mampu beradaptasi dengan baik pada lahan gambut, benih DxP Topaz juga memiliki potensi hasil minyak yang tinggi, produksi TBS yang tinggi mulai panen pertama (29 bulan setelah tanam), rendemen minyak yang tinggi, pertumbuhan meninggi yang lambat, toleran terhadap kekeringan, tahan terhadap penyakit Fusarium Wilt.

      Hasil pengujian varietas DxP Topaz di lahan gambut Topaz-Riau menunjukkan bahwa pada tanaman yang ditanam bulan Mei 2003 pada tahun 2006/2007 telah mampu menghasilkan rata-rata 27,6 ton TBS/ha/thn (TM-2).
      Tetua-tetua dura yang terpilih untuk menghasilkan benih adalah dari keturunan dura Deli yang dikembangkan di lembaga riset Dami, Chemara, Harrisons & Crossfield, sedangkan tetua tetua pisifera terpilih adalah keturunan Nigeria, Ekona, Ghana, dan Yangambi. Pada tahun 2004 produksi benih sekitar 2,5 juta kecambah, dan ditingkatkan hingga mencapai 12 juta kecambah pada tahun 2008.
      untuk pemesanan bibit kelapa sawit jenis ini dan siap tanam hubungi: Saudara : Suprianto - 0823-8878-7764
      • MARIHAT
      PPKS telah memproduksi bahan tanam kelapa sawit unggul yang berstandar internasional sesuai dengan 'Sistem Manajemen Mutu' (ISO 9001:2008) sehingga terjamin mutunya. Bahan tanam unggul berupa kecambah, bibit klon serta bibit komersial kelapa sawit siap tanam yang telah melalui seleksi dan pengujian dari program pemuliaan tanaman dalam waktu puluhan tahun secara berkesinambungan. Bahan tanam kelapa sawit unggul merupakan modal utama untuk mendapatkan produktivitas tinggi. Dengan bahan tanam unggul maka produksi TBS dan minyak dijamin jauh lebih tinggi dibandingkan penggunaan bibit dari benih asalan.
      Grafik produksi kelapa sawit dari bahan tanam unggul dan palsu/asalan.
      Sembilan varietas unggul kelapa sawit yang saat ini tersedia di PPKS adalah:

      1. D x P PPKS 540 (High mesocarp)

      Rerata produksi: 28,1 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 27,4% Produksi CPO: 8,1 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 5,3 % Pertumbuhan meninggi: 72 cm/tahun

       

      2. D x P PPKS 718 (Big bunch)

      Rerata produksi: 26,5 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 23,9% Produksi CPO : 6,9 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 8,7 % Pertumbuhan meninggi : 75 cm/tahun

       

      3. D x P PPKS 239 (High CPO & PKO)

      Rerata produksi: 32 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 25,8% Produksi CPO: 8,4 ton/ha/tahun Produksi PKO: 1,3 ton/ha Rasio inti/buah: 8,9 % Pertumbuhan meninggi: 62,5 cm/tahun

       

       

       

       

      4. D x P Simalungun

      Rerata produksi: 28,4 ton TBS/ha/tahun
      Rendemen minyak: 26,5% Produksi CPO: 7,53 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 9,2 % Pertumbuhan meninggi : 75-80 cm/tahun

       

       

      5. D x P Langkat

      Rerata produksi: 27,5 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 26,3% Produksi CPO: 7,23 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 9,3 % Pertumbuhan meninggi: 60-70 cm/tahun

       

       

       

       6. Dy x P Sungai Pancur (Dumpy)

      Rerata produksi: 25-28 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 23-26% Produksi CPO: 6,5-7,3 ton/ha/tahun Rasio inti/buah : 6,5 % Pertumbuhan meninggi: 40-55 cm/tahun

       

       

      7. D x P LaMe

      Rerata produksi: 26-27ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 23-26% Produksi CPO: 5,9-7 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 6,9 % Pertumbuhan meninggi: 50-70 cm/tahun

       

       

       

      8. D x P Avros

      Rerata produksi: 24-27 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 23-26% Produksi CPO: 5,5-7 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 6,6 % Pertumbuhan meninggi: 60-80 cm/tahun

      9. D x P Yangambi

      Rerata produksi: 25-28 ton TBS/ha/tahun Rendemen minyak: 23-26% Produksi CPO: 5,8-7,3 ton/ha/tahun Rasio inti/buah: 7,2 %, Pertumbuhan meninggi: 60-70 cm/tahun
      untuk pemesanan bibit kelapa sawit jenis ini dan siap tanam hubungi: Saudara : Suprianto - 0823-8878-7764

      Minggu, 25 Juli 2010

      Lahan Kritis dan Lahan Potensial
      Lahan kritis adalah lahan yang tidak produktif. Meskipun dikelola, produktivitas lahan kritis sangat rendah. Bahkan, dapat terjadi jumlah produksi yang diterima jauh lebih sedikit daripada biaya pengelolaannya. Lahanini bersifat tandus, gundul, tidak dapat digunakan untuk usaha pertanian, karena tingkat kesuburannya sangat rendah. Faktor- Faktor yang menyebabkan terjadinya lahan kritis, antara lain sebagai berikut:
      · Kekeringan, biasanya terjadi di daerah-daerah bayangan hujan.
      · Genangan air yang terus-menerus, seperti di daerah pantai yang selalu tertutup rawa-rawa.
      · Erosi tanah dan masswasting yang biasanya terjadi di daerah dataran tinggi, pegunungan, dan daerah yang miring. Masswasting adalah gerakan masa tanah menuruni lereng.
      · Pengolahan lahan yang kurang memperhatikan aspek-aspek kelestarian lingkungan. Lahan kritis dapat terjadi di dataran tinggi, pegunungan, daerah yang miring, atau bahkan di dataran rendah.
      · Masuknya material yang dapat bertahan lama kelahan pertanian (tak dapat diuraikan oleh bakteri) misalnya plastic. Plastik dapat bertahan ± 200 tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kelestaian kesuburan tanah.
      · Pembekuan air,biasanya terjadi daerah kutub atau pegunungan yang sangat tinggi. Pencemaran, zat pencemar seperti pestisida dan limbah pabrik yang masuk ke lahan pertanian baik melalui aliran sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian baik melalui aliran sungai maupun yang lain mengakibatkan lahan pertanian menjadi kritis.
      Beberapa jenis pestisida dapat bertahan beberapa tahun di dalam tanah sehingga sangat mengganggu kesuburan lahan pertanian. Jika lahan kritis dibiarkan dan tidak ada perlakuan perbaikan, maka keadaan itu akan membahayakan kehidupan manusia, baik secara langsung ataupun tidak langsung. Maka dari itu, lahan kritis harus segera diperbaiki. Untuk menghindari bahaya yang ditimbulkan oleh adanya lahan kritis tersebut, pemerintah Indonesia telah mengambil kebijakan, yaitu melakukan rehabilitasi dan konservasi lahan-lahan kritis di Indonesia. Upaya penagggulangan lahan kritis dilaksanakan sebagai berikut.
      1. Lahan tanah dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi pertanian, perkebunan, peternakan, dan usaha lainnya.
      2. Erosi tanah perlu dicegah melalui pembuatan teras-teras pada lereng bukit.
      3. Usaha perluasan penghijauan tanah milik dan reboisasi lahan hutan.
      4. Perlu reklamasi lahan bekas pertambangan.
      5. Perlu adanya usaha ke arah Program kali bersih (Prokasih).
      6. Pengolahan wilayah terpadu di wilayah lautan dan daerah aliran sungai (DAS).
      7. Pengembangan keanekaragaman hayati.
      8. Perlu tindakan tegas bagi siapa saja yang merusak lahan yang mengarah pada terjadinya lahan kritis.
      9. Menghilangkan unsure-unsur yang dapat mengganggu kesuburan lahan pertanian, misalnya plastik. Berkaitan dengan hal ini, proses daur ulang sangat diharapkan.
      10. Pemupukan dengan pupuk organik atau alami, yaitu pupuk kandang atau pupuk hijau secara tepat dan terus-menerus.
      11. Guna menggemburkan tanah sawah, perlu dikembangkan tumbuhan yang disebut Azola.
      12. Memanfaatkan tumbuhan eceng gondok guna menurunkan zat pencemaran yang ada pada lahan pertanian. Eceng gondok dapat menyerap pat pencemar dan dapat dimanfaatkan untuk makanan ikan.
      Namun, dalam hal ini kita harus hati-hati karena eceng gondok sangat mudah berkembang sehingga dapat menggangu lahan pertanian. Lahan potensial adalah lahan yang belum dimanfaatkan atau belum diolah dan jika diolah akan mempunyai nilai ekonimis yang besar karena mampunyai tingkat kesuburan yang tinggi dan mempunyai daya dukung terhadap kebutuhan manusia. Lahan potensian merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Untuk itu harus ditangani dan dikelola secara bijak. Daerah diluar jawa banyak memiliki daerah produktif yang sangat potensial, tetapi belum atau tidak dimanfaatkan sehingga daerah ini dikenal dengan daerah yan sedang tidur. Dengan pertumbuhan penduduk dan ekonomi, tekanan terhadap tanah semakin meningkat. Hutan di luar pualu jawa di ubah menjadi lahan pertanian, kawasan pertambangan, dan perkebunan. Sementara itu, lahan pertanian di pulau Jawa diubah menjadi kawasan pemukiman dan industri serta waduk. Kehutanan, pertambangan, dan pertanian juga dapat membuat tanah menjadi tidak produktif untuk kegiatan ekonomi lebih lanjut. Program untuk meningkatkan produksi pangan dan perluasan pemukiman dalam skala besar-besaran telah memberikan kontribusi dalam pembukaan hutan dan belukar. Hal ini menyebabkan meningkatnya erosi, berkurangnya kesuburan dan produktivitas lahan, serta hilangnya habitat. Walaupun sejumlah kawanan alami, baik daratan maupunhutan, telah dilindungi dari dampak kegiatan manusia melalui penetapannyasebagai cagar alam dan taman nasional, sejumlahbesar lahan masih belum diusahakan oleh manusia secara optimal. Lahan potensial merupakan modal dasar dalam upaya meningkatkan kesejahteraan hidp manusia. Maka dari itu, harus ditangani secara bijaksana dalam pemanfaatan lahan potensial dan jangan sampai malah merusak lingkungan. Lahan potensialtersebar di tiga wilayah utama daratan, yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dan dataran tinggi. Lahan-lahan di wilayah pantai didominasi oleh tanah alluvial (tanah hasil pengendapan). Tanahini cukup subur karena banyak mengandung mineral-mineral yang diangkut bersama lumpur oleh sungai kemidian diendapkan di daerah muara sungai. Mulai dataran pantai sampai ketinggian 300 m dari permukaan laut merupakan areal lahan dataran rendah. Bila curah hujannya cukup memadai, zona dataran rendah ini merupakan wilayah lahan hutan hujan tropis yang sangat subur. Mulai ketinggian 500 meter di atas permukaan laut merupakan wilayah tanah tinggi, kondisi wilayahnya merupakan lahan bergelombang, berbukit-bukit sampai daerah pegunungan. Bagi daerah-daerah tanah tnggi yang dipengaruhi oleh gunung berapi,kondisi lahannya di dominasi oleh tanah vulkanik yang subur yang terkandung mineral haranya cukup tinggi. Daerah pegunungan yang memiliki curah hujan tinggi, merupakan daerah yang rawan erosi tanah. Selain proses erosi, di daerah-daerah yang memiliki crah hujan tinggi keadaan tanahnya biasanya berwarna merah kecoklatan (pucat), karena unsure-unsur hara dan humusnya banyak tercuci dan terhanyutkan oleh air hujan. Jenis tanah ini kurang subur.
      Contoh tanah yang sudah banyak mengalami pencucian di antaranya tanah latosol dan tanah podzolik serta tanah laterit. Upaya-upaya pelestarian dan peningkatan manfaat lahan-lahan potensial dilaksanakan antara lain dengan cara berikut.
      1. Merencanakan penggunaan lahan yang digunakan manusia.
      2. Menciptakan keserasian da keseimbangan fungsi dan intensitas penggunaan lahan dalam wilayah tertentu.
      3. Merencanakan penggunaan lahan kota agar jangan sampai menimbulkan dampak pencemaran.
      4. Menggunakan lahan seoptimal mungkin bagi kepentinganmanusia.
      5. Memisahkan penggunaan lahan untuk permukiman, industry, pertanian, perkantoran, dan usaha-usaha lainnya.
      6. Membuat peraturan perundang-undangan yang meliputi pengaliahn hak atas tanah untuk kepentingan umum dan peraturan perpajakan.
      7. Melakukan pengkajian terhadap kebijakan tata ruang, perijinan, dan pajak dalam kaitannya dengan konversi penggunaan lahan.
      8. Menggnakan teknologi pengolahan tanah, penghijauan, reboisasi, dan pembuatan sengkedan di aderah pegunungan.
      9. Perlu usaha pemukiman penduduk dan pengendalian peladang berpindah.
      10. Mengelola dengan baik daerah aliran sungai, daerah pesisir, dan daerah di sekitar lautan.

      Minggu, 18 Juli 2010


      Teknik Pembibitan Kelapa Sawit

      Rabu, 09 Juni 2010 00:00

      Luas areal dan produksi kelapa sawit di Riau mengalami kenaikan dari tahun ke tahun, kebanyakan dilaksanakan oleh perkebunan besar dan sebagian kecil masyarakat tani. Sementara itu lahan potensial untuk perkebunan sebagian diarahkan untuk pengembangan kelapa sawit.

      Penyediaan Bahan Tanaman

      Guna menjamin keberhasilan pengembangan kelapa sawit diperlukan penyediaan bahan tanaman yang baik dan bermutu dalam jumlah yang memadai. Ada 3 (tiga) jenis kelapa sawit yang dibudidayakan yaitu Pisifera, Dura dan Tenera. Jenis yang terakhir ini banyak diusahakan oleh perusahaan maupun petani.

      Untuk mendapatkan benih kelapa sawit yang direkomendasikan oleh Direktorat Jenederal Perkebunan penangkar bibit di Riau harus memesan benih/kecambah kelapa sawit dengan salah satu lembaga yang ditunjuk seperti : Pusat Penelitian Kelapa Sawit (Medan), Balai Penelitian Kelapa Sawit Marihat (Pematang Siantar), PT.Socfindo (Medan) dan PT.PP London Sumatera (Medan) atau Sub Station Pusat Penelitian Marihat Parindu (Sanggau).
      selengkapnya mengenai tehnik Pembibitan kelapa sawit dapat dibaca disini : Pembibitan

      METODE PEMBUKAAN LAHAN KELAPA SAWIT

      anto, 10 Juni 2010 01:00
      Pengolahan tanah pada areal peremajaan kelapa sawit akan lebih rasional jika mempertimbangkan sifat tanah pada tingkat klasifikasi macam tanah. Tingkat kegemburan atau kekerasan tanah ternyata dapat menentukan intensitas pengolahan tanan. Tanah yang berasal dari bahan volkanis baik yang bersifat in-situ ataupun aluviumnya, umumnya membentuk tanah yang gembur sampai agak teguh dengan tingkat kekerasan tanah berkisar 1,25 - 2,50 kg/cm2. Penelitian terhadap 15 macam tanah yang ditemukan di areal kelapa sawit di Indonesia menunjukkan bahwa potensi pengerasan tanah adalah berbeda-beda tergantung pada macam tanahnya. Tingginya kandungan bahan organik ( > 1% kandungan carbon dan kapasitas tukar kation nyata ( > 16 me/lOOg liat), ternyata memlegang peranan penting dalam mengurangi degradasi sifat fisik tanah. Pengolahan tanah secara intensif sangat ditekankan terhadap tanah-tanah yang berasal dari formasi tersier, terutama pada tanah-tanah Typic Paleudult dan Typic Plinthudult. Tanah dari formasi tersier yang sebagian besar berada di wilayah pengembangan, memiliki penyebaran + 41% dari seluruh areal kelapa sawit.
      Tanpa Olah Tanah (TOT) hanya disarankan pada tanah-tanah yang berasal dari bahan volkanis seperti Aquic Hapludand, Typic Dys -tropept, sebagian Typic Hapludult dan Eutric Tropofluvent. TOT dalam hal ini meliputi pemberantasan gulma secara kimiawi disertai dengan olah tanah manual seperlunya untuk penanaman penuntup tanah kacangan



      Keadaan Lahan
      a. Ketinggian Tempat
      Tanaman kelapa sawit bisa tumbuh dan berbuah hingga ketimggian tempat 1000 meter diatas permukaan laut (dpl). Namun, pertumbuhan tanaman dan produktivitas optimal akan lebih baik jika ditanam di lokasi dengan ketinggian 400m dpl.

      b. Topografi
      Kelapa sawit sebaiknya ditanam di lahan yang memiliki kemiringan lereng 0-12o atau 21%. Lahan yang kemiringannya 13o-25o masih bisa ditanami kelapa sawit, twtapi petumbuhannya kurang baik. Untuk lahan yang kemiringannya lebih dari 25o sebaiknya tidak dipilih karena menyulitkan dalam pengangkutan buah saat panen dan beresiko terjadi erosi.
      c. Drainase
      Tanah yang sering mengalami genangan air umumnya tidak disukai tanaman kelapa sawit karena akarnya membutuhkan banyak oksigen. Drainase yang jelek dapat menghambat kelancaran penyerapan unsure hara dan proses nitrifikasi akan terganggu, sehingga tanaman akan kekurangan unsure nitrogen (N). karena itu, drainase tanah yang akan dijadikan lokasi perkebunan kelapa sawit harus baik dan lancar, sehingga ketika musim hujan tidak tergenang.
      d. Tanah
      Kelapa sawit dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, seperti tanah podsolik, latosol, hidromorfik kelabu, regosol, andosol, dan alluvial. Tanah gambut juga dapat di tanami kelapa sawit asalkan ketebalan gambutnya tidak lebih dari satu metter dan sudah tua (saphrik). Sifat tanah yang perlu di perhatikan untuk budi daya kelapa sawit adalah sebagai berikut
      1. Sifat Fisik Tanah
      Tanaman kelapa sawit dapat tumbuh baik di tanah yang bertekstur lempung berpasir, tanah liat berat, tanah gambut memiliki ketebalan tanah lebih dari 75 cm; dan berstruktur kuat.
      2 . Sifat Kimia Tanah
      Tanaman kelapa sawit membutuhkan unsure hara dalam jumlah besar untuk pertumbuhan vegetatif dan generatif. Untuk mendapatkan produksi yang tinggi dibutuhkan kandungan unsure hara yang tinggi juga. Selain itu, pH tanah sebaiknya bereaksi dengan asam dengan kisaran nilai 4,0-6,0 dan ber pH optimum 5,0-5,5.
      Keadaan Iklim
      Keadaan iklim sangat mempengaruhi proses fisiologio tanaman, seperti proses asimilasi, pembentukan bunga, dan pembuahan. Sinar matahari dan hujjan dapat menstimulasi pembentukan bunga kelapa sawit.
      Jumlah curah hujan dan lamanya penyinaran matahari memiliki korelasi dengan fluktuasi produksi kelapa sawit. Curah hujan ideal untuk tanaman kelapa sawit adalah 2.000-2.500 mm per tahun dan tersebar merata sepanjang tahun. Jumlah penyinaran rata rata sebaiknya tidak kurang dari 6 jam per hari. Temperature sebaiknya 22-23o. keasaan angina tidak terlalu berpengaruh karenaan kelapa sawit lebih tahan terhadap angina kencang di bandingkan tanaman lainnya.
      Bulan kering yang tegas dan berturut turut selama beberapa bulan bisa mempengaruhi pembentukan bunga (baik jantan maupun seks rasionya) untuk 2 tahun berikutnya.

      Metode Pembukaan Lahan
      • Perkebunan kelapa sawit dapat dibangun di daerah yang memiliki topografi yang berbeda-beda
      o bekas hutan
      o daerah bekas alang-alang, atau
      o bekas perkebunan
      • Yang perlu diperhatikan
      o tetap terjaganya lapisan olah tanah
      o urutan pekerjaan, alat, dan teknik pelaksanaannya
      • identifikasi vegetasi
      • ditentukan apakah pembukaan lahan dilakukan secara manual, manual – mekanis atau secara mekanis
      Metode Pembukaan Lahan
      • pada daerah alang-alang:
      o mekanis  membajak dan menggaru
      o khemis  menyemprot alang-alang dengan racun antara lain Dalapon atau Glyphospate
      • konversi : membuka areal perkebunan dari bekas perkebunan lain
      • pembukaan lahan tanpa bakar  cara membakar hutan dilarang oleh pemerintah dengan dikeluarkannya SK Dirjen Perkebunan No. 38 tahun 1995, tentang pelarangan membakar hutan
      METODE PEMBAKARAN LAHAN
      • Sejarah perkembangan perkebunan kelapa sawit di Indonesia  sejarah deforestasi.
      • Praktek pembersihan lahan :
      o Jutaan hektar hutan di buka dan diambil kayunya.
      o Pohon-pohon yang kecil beserta ilalang kemudian dibakar sehingga menimbulkan kebakaran  api sarana yang paling cepat & murah.
      • Penegakan hukum lemah puluhan perusahaan menggunakan api untuk melakukan pembersihan lahan termasuk peningkatan pH tanah
      o Pada tahun 2001, Manager PT Adei Plantation berkebangsaan Malaysia dihukum 2 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Kampar tahun 2001 karena terbukti memerintahkan pembakaran lahan untuk menaikkan ph tanah menjadi 5- 6 agar dapat ditanami kelapa sawit

      alasan menggunakan metode pembukaan lahan tanpa bakar :
      • mempertahankan kesuburan tanah,
      • menjamin pengembalian unsur hara,
      • mencegah erosi permukaan tanah, dan
      • membantu pelestarian lingkungan.
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      • Sebelum konversi
      o tingginya intensitas hujan di wilayah tropis diimbangi dengan penutupan hutan alam yang begitu luas  mengendalikan terjadinya banjir, erosi, sedimentasi dan tanah longsor
      o gudang sumberdaya genetik dan pendukung ekosistem kehidupan
      o pepohonan pada hutan alam menghasilkan serasah yang cukup tinggi  meningkatkan kandungan bahan organik lantai hutan  lantai hutan memiliki kapasitas peresapan air (infiltrasi) yang jauh lebih tinggi dibandingkan penutupan lahan non-hutan.
      o tebalnya lapisan serasah  meningkatkan aktifitas biologi tanah
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      o siklus hidup/pergantian perakaran pohon (tree root turnover) yang amat dinamis dalam jangka waktu
      yang lama  tanah hutan memiliki banyak poripori berukuran besar (macroporosity)  tanah hutan memiliki laju penyerapan air/pengisian air tanah (perkolasi) yang jauh lebih tinggi
      o stratifikasi hutan alam (bervariasinya umur dan ketinggian tajuk hutan), tingginya serasah dan tumbuhan bawah pada hutan alam  penutupan lahan secara ganda  efektif mengendalikan erosivitas hujan (daya rusak hujan), aliran permukaan dan erosi
      o sisi bentang lahan (landscape)  penggunaan lahan yang paling aman secara ekologis
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      o sangat sedikit sekali ditemukan jalan-jalan setapak, tidak ada saluran Irigasi & jalan berukuran besar yang diperkeras  pada saat hujan besar berperan sebagai saluran drainase.
      o biomasa hutan yang tidak beraturan  filter pergerakan air dan sedimen.
      o dalam hutan alam tidak dilakukan pengolahan tanah yang membuat lahan lebih peka terhadap erosi.
      o hutan dalam kondisi yang tidak terganggu lebih tahan terhadap kekeringan  tidak mudah terbakar.
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      • Sesudah konversi
      o merusak habitat hutan alam  menghancurkan seluruh kekayaan hayati hutan yang tidak ternilai harga dan manfaatnya  mengubah landscape hutan alam secara total.
      o kerusakan seluruh ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) jika tidak dilakukan dengan baik
      o meningkatnya aliran permukaan (surface runoff), tanah longsor,erosi dan sedimentasi
      o semakin parah, apabila pembersihan lahan (setelah kayunya ditebang) dilakukan dengan cara pembakaran
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      o Rumput dan tumbuhan bawah secara menerus akan dibersihkan, karena akan berperan sebagai gulma tanaman pokok. Dilain pihak, rumput dan tumbuhan bawah ini justru berperan sangat penting untuk mengendalikan laju erosi dan aliran permukaan.
      o Keberadaan pepohonan yang tanpa diimbangi oleh pembentukan serasah dan tumbuhan bawah  meningkatkan laju erosi permukaan
      o Pembangunan perkebunan memerlukan pembangunan jalan, dari jalan utama hingga jalan inspeksi, serta pembangunan infrastruktur (perkantoran, perumahan), termasuk saluran drainase. Kondisi ini apabila tidak dilakukan dengan baik (biasanya memang demikian)  semakin cepatnya air hujan mengalir menuju ke hilir peresapan air menjadi terbatas dan peluang terjadinya banjir dan tanah longsor akan meningkat
      Dampak konversi hutan alam menjadi kebun kelapa sawit
      o pohon kelapa sawit sebagai pohon yang cepat tumbuh (fast growing species) dikenal sebagai pohon yang rakus air, artinya pohon ini memiliki laju evapotranspirasi (penguap-keringatan) yang tinggi. Setiap pohon kelapa sawit memerlukan 20 – 30 liter air setiap harinya mengurangi ketersediaan air khususnya di musim kemarau
      Dampak negatif terhadap lingkungan menjadi bertambah serius karena dalam prakteknya pembangunan perkebunan kelapa sawit tidak hanya terjadi pada kawasan hutan konversi, melainkan juga dibangun pada kawasan hutan produksi, hutan lindung, dan bahkan di kawasan konservasi yang memiliki ekosistem yang unik dan mempunyai nilai keanekaragaman hayati yang tinggi (Manurung, 2000; Potter and Lee, 1998).
      SOLUSI
      • pemerintah daerah perlu ekstra hati-hati dalam menerbitkan ijin konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit  rujukan utama dalam pengambilan keputusan: Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. S.599/Menhut-VII/2005 tertanggal 12 Oktober 2005 tentang Penghentian/Penangguhan Pelepasan Kawasan
      • pemerintah perlu memberikan sanksi yang tegas dan jelas terhadap pihak pelaku kegiatan konversi hutan yang tidak bertanggung jawab
      • menghentikan konversi hutan alam menjadi perkebunan kelapa sawit  mengganti hutan alam dengan lahan kritis/terlantar
      • perencanaan tata ruang yang tepat dan perencanaan praktik-praktik perkebunan yang lestari dan bertanggung jawab



      Penanaman Kelapa Sawit
      1) Persiapan lahan
      Tanaman kelapa sawit sering ditanam pada areal / lahan : bekas hutan (bukaan baru, new planting), bekas perkebunan karet atau lainnya ( konversi), bekas tanaman kelapa sawit (bukaan ulangan, replanting).
      Pembukaan lahan secara mekanis pada areal bukaan baru dan konversi terdiri dari beberapa pekerjaan, yakni: a) menumbang, yaitu memotong pohon besar dan kecil dengan mengusahakan agar tanahnya terlepas dari tanah; b) merumpuk, yaitu mengumpulkan dan menumpuk hasil tebangan untuk memudahkan pembakaran. c) merencek dan membakar, yaitu memotong dahan dan ranting kayu yang telah ditumpuk agar dapat disusun sepadat mungkin, setelah kering lalu dibakar. d) pengolahan tanah secara mekanis.
      Pembukaan lahan secara mekanis pada tanah bukaan ulangan terdiri dari pekerjaan, yakni: a) pengolahan tanah secara mekanis dengan menggunakan traktor. b) meracun batang pokok kelapa sawit dengan cara membuat lubang sedalam 20 cm pada ketinggian 1 meter pada pokok tua. Lubang diisi dengan Natrium arsenit 20 cc per pokok, kemudian ditutup dengan bekas potongan lubang; c) membongkar, memotong dan membakar. Dua minggu setelah peracunan, batang pokok kelapa sawit dibongkar sampai akarnya dan swetelah kering lalu dibakar; d) pada bukaan ulangan pembersihan bekas-bekas batang harus diperhatikan dengan serius karena sisa batang, akar dan pelepah daun dapat menjadi tempat berkembangnya hama (misalnya kumbang Oryctes) atau penyakit ( misalnya cendawan Ganoderma).
      2) Pengajiran ( memancang)
      Maksud pengajiran adalah untuk menentukan tempat yang akan ditanami kelapa sawit sesuai dengann jarak tanam yang dipakai. Ajir harus tepat letaknya, sehingga lurus bila dilihat dari segala arah, kecuali di daerah teras dan kontur. System jarak yang digunakan adalah segitiga sama sisi, dengan jarak 9 m x 9 m x 9 m. Dengan system segi tiga sama sisi ini, pada arah Utara – Selatan tanaman berjarak 8,82 m dan jarak untuk setiap tanaman adalah 9 m. Populasi (kerapatan) tanaman per hektar adalah 143 pohon.
      3) Pembuatan lubang tanaman
      Lubang tanaman dibuat beberapa hari sebelum menanam. Ukuran lubang, panjang x lebar x dalam adalah 50 cm x 40 cm x 40 cm. Pada waktu menggali lubang, tanah atas dan bawah dipisahkan, masing-masing di sebelah Utara dan Selatan lubang.
      4) Menanam
      Cara menanam bibit yang ada pada polybag, yaitu:
      - Sediakan bibit yang berasal dari main nursery pada masing-masing lubang tanam yang sudah dibuat.
      - Siramlah bibit yang ada pada polybag sehari sebelum ditanam agar kelembaban tanah dan persediaan air cukup untuk bibit.
      - Sebelum penanaman dilakukan pupuklah dasar lubang dengan menaburkan secara merata pupuk fosfat seperti Agrophos dan Rock Phosphate sebanyak 250 gram per lubang.
      - Buatlah keratin vertical pada sisi polybag dan lepaskan polybag dari bibit dengan hati-hati, kemudian masukkan ke dalam lubang.
      - Timbunlah bibit dengan tanah galian bagian atas (top soil) dengan memasukkan tanah ke sekeliling bibit secara berangsur-angsur dan padatkan dengan tangan agar bibit dapat berdiri tegak.
      - Penanaman bibit harus diatur sedemikian rupa sehingga permukaan tanah polybag sama ratanya dengan permukaan lubang yang selesai ditimbun, dengan demikian bila hujan, lubang tidak akan tergenang air.
      - Pemberian mulsa sekitar tempat tanam bibit sangat dianjurkan.
      - Saat menanam yang tepat adalah pada awal musim hujan.

      Tanaman kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.) termasuk ke dalam famili Palmae dan subkelas Monocotyledoneae. Spesies lain dari genus Elaeis adalah E. melanococca yang dikenal sebagai kelapa sawit Amerika Latin. Beberapa varietas unggul yang ditanam adalah : Dura, Pisifera dan Tenera.

      A. VARIETAS

      Varietas yang banyak diusahakan umumnya merupakan varietas jenis Tenera (persilangan varietas jenis Dura dan Pisifera). Varietas ini mewarisi sifat-sifat unggul seperti inti kecil, cangkang tipis, daging buah tebal (60–90 % dari buah) serta kandungan minyak yang tinggi. Beberapa contoh varietas unggul kelapa sawit, yaitu:


      untuk keterangan mengenai kecambah hubungi 082388787764 sdr Anto

      1. Deli Dura x Pisifera Dolok Sinumbah
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
      c. Berat tandan 17 kg
      d. Kandungan minyak 6,8 ton/ha/tahun

      2. Deli Dura x Pisifera Bah Jambi
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun
      c. Berat tandan 16 kg
      d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun

      3. Deli Dura x Pisifera Marihat
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
      c. Berat tandan 17 kg
      d. Kandungan minyak 6,7 ton/ha/tahun.

      4. Deli Dura x Pisifera lame
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 14 tandan/tahun
      c. Berat tandan 16 kg
      d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun
      5. Deli Dura x Pisifera Yangambi
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 13 tandan/tahun
      c. Berat tandan 16 kg
      d. Kandungan minyak 6,9 ton/ha/tahun

      6. Deli Dura x Pisifera AVROS
      a. Umur mulai berproduksi 30 bulan
      b. Jumlah tandan 12 tandan/tahun
      c. Berat tandan 16 kg
      d. Kandungan minyak 7,0 ton/ha/tahun.

      B. BOTANI

      Morfologi kelapa sawit adalah sebagai berikut:

      1. Akar
      Tanaman kelapa sawit memiliki jenis akar serabut. Akar utama akan membentuk akar sekunder, tertier dan kuartener.

      2. Batang
      Batang kelapa sawit berbentuk silinder dengan diameter sekitar 20–75 cm. Tinggi batang bertambah sekitar 45 cm per tahun. Dalam kondisi lingkungan yang sesuai pertambahan tinggi dapat mencapai 100 cm per tahun.



      3. Daun
      Susunan daun kelapa sawit membentuk susunan daun majemuk. Susunan ini menyerupai susunan daun pada tanaman kelapa. Panjang pelepah daun sekitar 7,5–9 m. Jumlah anak daun pada setiap pelepah berkisar antara 250–400 helai. Produksi pelepah daun selama satu tahun mencapai 20–30 pelepah.

      4. Bunga
      Tanaman kelapa sawit merupakan tanaman berumah satu. Rangkaian bunga jantan terpisah dengan rangkaian bunga betina. Umumnya tanaman kelapa sawit melakukan penyerbukan silang.

      5. Buah
      Buah terkumpul di dalam tandan. Dalam satu tandan terdapat sekitar 1.600 buah. Tanaman normal akan menghasilkan 20–22 tandan per tahun. Jumlah tandan buah pada tanaman tua sekitar 12–14 tandan per tahun. Berat setiap tandan sekitar 25–35 kg.

      Secara anatomi buah kelapa sawit tersusun dari:

      a. Pericarp atau daging buah. Pericarp terdiri dari:
      • Mesokarp, yaitu kulit luar buah yang keras dan licin.
      • Mesokarp, yaitu bagian daging buah yang berserabut. Mesokarp merupakan bagian yang mengandung minyak dengan rendemen paling tinggi.

      b. Biji yang tersusun dari :
      • Endokarp (tempurung) yang merupakan lapisan keras dan berwarna hitam.
      • Endosperm (kernel) yang berwarna putih. Kernel akan menghasilkan minyak inti atau palm kernel oil.


      Budidaya Kelapa Sawit

      Anto, 13 Juni 2010 01:02

      BUDIDAYA KELAPA SAWIT
      ( Elaeis guinensis jacg )
      Kelapa sawit ( Elaeis guinensis jacg ) adalah salah satu dari beberapa palma
      yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan
      sebagai minyak makanan margarine, dapat juga digunakan untuk industri sabun,
      lilin dan dalam pembuatan lembaran-lembaran timah serta industri kosmetik .
      SYARAT -SYARAT TUMBUH .
      - Curah hujan minimum 1000-1500 mm /tahun, terbagi merata sepanjang
      tahun.
      - Suhu optimal 26°C.
      - Kelembaban rata-rata 75 %.
      - Dapat tumbuh pada bermacam-macam tanah, asalkan gembur, aerasi
      dan draenasenya baik, kaya akan humus dan tidak mempunyai lapisan
      padas.
      - pH tanah antara 5,5 – 7,0.
      P E M B I B I T A N
      a. Pengecambahan Biji.
      - Biji dipanaskan dalam germinator selama 60 hari dengan suhu tetap 39oC
      dan kadar air 18%.
      - Kemudian biji direndam dalam air mengalir selama 6 hari, hingga kadar air
      naik menjadi 24%.
      - Selanjutnya biji dikeringkan selama 3 jam dalam ruangan yang teduh.
      - Biji dimasukkan dalam kantong plastik ukuran 38 x 39 cm sebanyak 500
      biji, kemudian ditutup rapat
      - Setelah 10-14 hari, biji mulai berkecambah.
      - Biji yang belum berkecambah pada umur 30 hari dibuang saja.
      - Kecambah yang tumbuh normal dan sehat, warnanya kekuning-kuningan,
      tumbuhnya lurus serta bakal daun dan bakal akarnya berlawanan arah.
      b. Persemaian dan Pembibitan
      - Kecambah dipindahkan kekantong plastik ukuran 14 x 22 cm dengan
      tebal 0,08 mm.
      - Isilah polybag dengan tanah lapisan atas yang dibersihkan dari kotoran
      dan dihancurkan sebelumnya.
      - Lakukan penyiraman polybag sebelum penanaman kecambah dan
      selanjutnya pada setiap pagi dan sore setelah penanaman.
      - Buatlah lobang tanam sedalam 3 cm.
      - Buatlah naungan persemaian setinggi 2,5 m
      - Setelah bibit berumur 3 bulan dipindahkan kedalam polybag yang besar
      dengan ukuran 40 x 50 cm, tebal 0,2 mm.
      PERSIAPAN LAHAN
      - Lahan diolah sebaik mungkin, dibersihkan dari semak-semak dan rumputrumput
      liar.
      - Buatlah lobang tanam dengan ukuran 40 x 40 x 40 cm atau 60 x 60 x 60
      cm, 2 minggu sebelum tanam dengan jarak 9 x 9 x 9 m membentuk
      segitiga sama sisi.
      - Tanah galian bagian atas dicampur dengan pupuk fosfat sebanyak 1
      kg/lobang.
      - Lobang tanam ditutup kembali dan jangan dipadatkan.
      P E N A N A M A N
      - Masukkan bibit ke dalam lobang dengan hati-hati dan kantong plastik
      dibuka.
      - Lobang ditimbun dengan tanah, tidak boleh diinjak-injak agar tidak terjadi
      kerusakan.
      - Bibit yang tingginya lebih dari 150 cm, daunnya dipotong untuk
      mengurangi penquapan.
      - Penanaman sebaiknya dilakukan pada awal musim penghujan.
      PEMELIHARAAN TANAMAN
      - Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang mati dengan
      tanaman baru yang seumur dengan tanaman yang mati.
      - Cadangan bibit untuk penyulaman terus dipelihara sampai dengan umur 3
      tahun dan selalu dipindahkan ke kantong plastik yang lebih besar.
      - Penyiangan gulma dilakukan 1 bulan sekali.
      - Lakukan perawatan dan perbaikan parit drainage.
      - Anjuran pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seperti pada
      table 1.
      - Sedangkan pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM), kebutuhan pupuk
      berkisar antara 400 – 1000 kg N, P, K, Mg, Bo per Ha/tahun.
      - Lakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun; pada awal dan akhir musim
      penghujan dengan cara menyebar merata di sekitar piringan tanaman.
      - Hama-hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah Ulat
      Kantong; Metisaplama, Mahasena Coubessi dan Ulat Api; Thosea asigna,
      Setora nitens, Dasna trina. Sedangkan penyakitnya busuk tandan
      Marasmius sp. Hama ulat kantong dikendalikan dengan insektisida yang
      mengandung bahan aktif metamidofos 200/liter atau 600 g/liter, hama ulat
      api dengan insektisida yang mengandung bahan aktif permetrin 20 g/liter
      dan monokrotofos 600 g/lite.
      - Potonglah daun yang sudah tua, agar penyebaran cahaya matahari lebih
      merata, mempermudah penyerbukan alami, memudahkan panen dan
      mengurangi penguapan.
      P A N E N
      - Telah dapat menghasilkan pada umur 30 bulan setelah tanam.
      - Jumlah pohon yang dapat dipanen per hektar sebanyak 60%.
      - Dipilih tandan yang buahnya sudah masak dengan tanda adanya
      sejumlah buah merah yang jatuh (brondol ).
      - Cara panen dengan memotong tandan buah.
      - Pemanenan dilakukan 1 kali seminggu.

      selengkapnya dapat diklik disini..

      Kelapa sawit komplit

      Hama dan Penyakit Kelapa Sawit

      Pengendalian hama dan penyakit tanaman
      A. Penyakit
      1. Penyakit Akar (Blast disease)
      Gejala serangan :
      - Tanaman tumbuh abnormal dan lemah
      - Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning
      Penyebab :
      Jamur (Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.)
      Cara pengendalian :
      - Melakukan kegiatan persemaian dengan baik
      - Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman
      2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)
      Gejala serangan:
      - Daun berwarna hijau pucat
      - Jamur yang terbentuk sedikit
      - Daun tua menjadi layu dan patah
      - Dari tempat yang terinfeksi keluar getah
      Penyebab :
      Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.
      Cara pengendalian dan pencegahan :
      - Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar
      - Melakukan pembumbunan tanaman
      3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)
      Gejala serangan:
      - Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati
      - Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk
      - Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan
      Penyebab :
      Jamur Fomex noxius.
      Cara pengendalian :
      - Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang
      - Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka
      4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)
      Gejala serangan :
      Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.
      Penyebab :
      Jamur Ceratocytis paradoxa.
      Cara pengendalian :
      Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.
      5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)
      Gejala serangan:
      Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.
      Penyebab :
      Belum diketahui dengan pasti.
      Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang
      6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)
      Gejala serangan :
      - Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut
      - Aroma kuncup yang terserang berbau busuk
      Penyebab :
      Bakteri Erwinia.
      Cara pengendalian :
      Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.
      7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)
      Gejala serangan:
      Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.
      Penyebab :
      Jamur Fusarium oxysporum
      Cara pengendalian :
      Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.
      8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)
      Gejala serangan :
      - Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun
      - Bercak-bercak dikelilingi warna kuning
      - Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang
      Penyebab :
      Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.
      Cara pengendalian :
      - Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang
      - Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.
      Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.
      9. Penyakit Tajuk (Crown disease)
      Gejala serangan :
      Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.
      Penyebab:
      Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.
      Cara pengendalian :
      Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.
      10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)
      Gejala serangan:
      Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.
      Penyebab :
      Jamur Marasmius palmivorus.
      Cara pengendalian :
      Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan.
      Pengaplikasian difolatan 0,2 %.
      B. Hama
      1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)
      Gejala serangan :
      - Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak
      - Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.
      Cara pengendalian:
      - Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar
      - Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit
      2. Tungau (Oligonychus sp.)
      Gejala serangan :
      Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).
      Cara pengendalian :
      Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.
      3. Pimelephila ghesquierei
      Gejala serangan :
      Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.
      Cara pengendalian :
      - Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang
      - Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.
      4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)
      Gejala serangan :
      Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang daunnya saja.
      Cara pengendalian :
      Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.
      5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)
      Gejala serangan:
      - Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi
      - Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.
      Cara pengendalian :
      Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha. 6. Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus
      Gejala serangan:
      Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.
      Cara pengendalian :
      Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.
      7. Kumbang Oryctes rhinoceros
      Gejala serangan :
      Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.
      Cara pengendalian :
      Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.
      Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.
      8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)
      Gejala serangan:
      Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.
      Cara pengendalian :
      Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.
      9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)
      Gejala serangan:
      - Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal
      - Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.
      Cara pengendalian :
      Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

      JAKARTA. Ini bisa menjadi berita bagus bagi para investor perkebunan kelapa sawit. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kehutanan, sedang menyiapkan Peraturan Menteri yang akan memasukkan perkebunan kelapa sawit menjadi bagian dari tanaman hutan. Dengan peraturan ini, diharapkan tekanan terkait perusakan lingkungan bagi sektor perkebunan sawit akan bisa dihilangkan.

      Direktur Jenderal Bina Produksi Kehutanan (BPK) Kementerian Kehutanan Hadi Daryanto mengatakan PP yang memperbolehkan dimasukkannya perkebunan sawit sudah ada, sehingga sekarang yang perlu dilakukan adalah mengeluarkan peraturan menteri yang mempertegasnya. “PP-nya sudah ada tinggal peraturan menteri saja, kita akan segera mengeluarkannya,” kata Hadi di Jakarta, hari ini.

      Ia mengatakan, peraturan ini tidak akan menarik kewenangan Kementerian Pertanian di sektor tersebut. Dengan peraturan ini diharapkan investasi di kelapa sawit tidak akan mengorbankan kawasan hutan, namun tetap berjalan. “Seperti Malaysia, juga seperti definisi FAO (Food and Agriculture Organization) yang menyatakan kebun juga tetap merupakan kawasan hutan. Buat Kehutanan akan ada kenaikan investasi , namun kalau komoditas dicatat oleh Badan Pusat Statistik (BPS) masuk pertanian kan tidak masalah ,” katanya.

      Menurutnya, hal yang sangat bodoh jika Indonesia menggunakan dikotomi atau pembedaan antara perkebunan dan kehutanan, apalagi di peraturan seperti UU 41 tahun 1999 tentang kehutanan dan peraturan seperti PP 6 tahun 2007 memperbolehkan dimasukkannya perkebunan ke sektor kehutanan. Dalam peraturan tersebut dikatakan, tanaman berbagai jenis bisa dimasukkan dalam sektor kehutanan.

      Dengan masuk ke sektor kehutanan, maka akan ada mozaik bukan hanya kebun sawit keseluruhan. “Jika masuk kebun maka semua sawit, tapi di kehutanan ada mozaik, 70% tanaman pokok, 25% tanaman kehidupan dan 5% tanaman pangan,” katanya. Dengan mozaik itu, menurut Hadi, akan ada kawasan lindung yang ditujukan untuk pelestarian lingkungan dan perlindungan satwa sehingga wawasan lingkungannya akan lebih kuat.

      Menurutnya, izin yang diberikan untuk perkebunan sawit nantinya bukan berupa hak guna usaha (HGU), karena dengan HGU seperti menjadi milik pribadi sehingga investor akan melakukan efisiensi sehingga semua ruang akan ditanami sawit. Ia mencontohkan, di kehutanan ada Hutan Tanaman Industri (HTI) yang lebih bagus dari segi lingkungan karena ada zoning.

      Ketentuan ini akan diberlakukan untuk investasi kelapa sawit yang baru, dan kepada regenerasi dari investasi yang sudah jalan. “Yang sudah jalan akan susah diterapkan, nanti pada waktu regenerasi baru akan diberlakukan,” katanya.
      Kelapa sawit komplit disini





      Kelapa sawit ( Elaeis guinensis jacg ) adalah salah satu dari beberapa palma yang menghasilkan minyak untuk tujuan komersil. Minyak sawit selain digunakan sebagai minyak makanan margarine, dapat juga digunakan untuk industri sabun, lilin dan dalam pembuatan lembaran-lembaran timah serta industri kosmetik

      SYARAT PERTUMBUHAN
      Iklim

      Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-28'C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan.
      Media Tanam
      Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu.
      PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA
      Pembibitan
      Kecambah dimasukkan polibag 12×23 atau 15×23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
      TEKNIK PENANAMAN
      Penentuan Pola Tanaman
      Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.
      Pembuatan Lubang Tanam
      Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50×40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 mCara Penanaman

      Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang.
      PEMELIHARAAN TANAMAN
      - Lakukan penyulaman untuk mengganti tanaman yang mati dengan tanaman baru yang seumur dengan tanaman yang mati.

      - Cadangan bibit untuk penyulaman terus dipelihara sampai dengan umur 2 tahun dan selalu dipindahkan ke kantong plastik yang lebih besar.

      - Penyiangan gulma dilakukan 1bulan sekali.

      - Lakukan perawatan dan perbaikan parit drainage.

      - Anjuran pemupukan Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) seperti pada table 1.

      - Sedangkan pemupukan Tanaman Menghasilkan (TM), kebutuhan pupuk berkisar antara 400 – 1000 kg N, P, K, Mg, Bo per Ha/tahun.

      - Lakukan pemupukan 2 kali dalam satu tahun; pada awal dan akhir musim penghujan dengan cara menyebar merata di sekitar piringan tanaman.

      - Hama-hama yang sering menyerang tanaman kelapa sawit adalah Ulat Kantong; Metisaplama, Mahasena Coubessi dan Ulat Api; Thosea asigna, Setora nitens, Dasna trina. Sedangkan penyakitnya busuk tandan Marasmius sp.


      Hama ulat kantong dikendalikan dengan insektisida yang mengandung bahan aktif metamidofos 200/liter atau 600 g/liter, hama ulat api dengan insektisida yang mengandung bahan aktif permetrin 20 g/liter dan monokrotofos 600 g/lite.

      - Potonglah daun yang sudah tua, agar penyebaran cahaya matahari lebih merata, mempermudah penyerbukan alami, memudahkan panen dan mengurangi penguapan.
      Panen
      Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih.
      Kelapa sawit komplit disini

      http://teknis-budidaya.blogspot.com/2007/10/budidaya-kelapa-sawit.html
      http://teddygustriandi.wordpress.com/2007/11/06/budidaya-kelapa-sawit/



      Konversi Lahan Gambut dan Perubahan Iklim
      Konversi lahan gambut ditengarai menjadi penyebab kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah di Indonesia. Di Provinsi Riau, terdapat 1.419 hot spot (titik panas) selama Juli 2010. Sebagian besar titik panas itu berada di kawasan gambut. Di saat yang bersamaan, hampir 30 persen titik panas di Kalimantan Barat juga berada pada kawasan gambut.

      Pembukaan lahan gambut dengan cara membakar mengakibatkan kebakaran hutan dan lahan secara meluas. Dari sifatnya, tanah gambut lebih mudah terbakar dan menghasilkan lebih banyak asap. Sekali terbakar, maka akan sangat sulit untuk memadamkan api di lahan gambut.


      Dunia gambut
      Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia telah menjadi salah satu sumber penyebab terjadinya perubahan iklim global. Data hot spot dari Moderate Resolution Imaging Spectroradiometer (Modis), dalam 5 tahun terakhir memperlihatkan sumber kebakaran hutan dan lahan di Riau sudah bergeser dari lahan mineral ke lahan gambut. Riau memiliki sebaran gambut cukup luas di sebelah timur wilayahnya hingga ke bagian pesisir.
      Di wilayah Asia Tenggara, luas areal gambut mencapai lebih dari 25 juta hektare (ha) atau 69 persen dari lahan gambut tropis di dunia. Luas lahan gambut di Indonesia lebih dari 20 juta ha. Sebesar 6,29 juta ha terdapat di Sumatera, sementara 4,044 juta ha di antaranya terdapat di Provinsi Riau (sekitar 45 persen dari luas total Provinsi Riau).
      Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup, diperkirakan gambut di Riau menyimpan karbon sebesar 14.605 juta ton. Besarnya cadangan karbon ini, jika tidak dikelola dengan baik akan berdampak pada pelepasan karbon ke udara sehingga meningkatkan efek rumah kaca. Besarnya cadangan karbon akan sangat bergantung pada kedalaman gambut itu sendiri. Semakin dalam, cadangan karbon akan semakin banyak.
      Riau mempunyai kedalaman gambut terdalam di dunia, yakni mencapai 16 meter di wilayah Kuala Kampar. Selama 10 tahun terakhir, 3 juta ha lahan gambut yang terbakar di Asia Tenggara telah mengeluarkan 3 miliar hingga 5 miliar ton karbon. Oleh karena itu emisi karbon dari lahan gambut di Asia Tenggara merupakan salah satu penghasil emisi gas rumah kaca terbesar di dunia --sama dengan 10 persen emisi bahan bakar fosil di seluruh dunia, untuk jangka waktu yang sama (Riau Declaration on Peatland and Climate Change, Januari 2006).
      Selama itu pula, berbagai konversi lahan gambut menjadi perkebunan kelapa sawit dan kayu kertas (pulp wood), penebangan yang tidak berkelanjutan dan pertanian, diperkirakan telah merusak sekitar 6 juta ha lahan gambut. Bercermin pada praktik-praktik pemanfaatan lahan gambut sejuta hektare yang gagal di Kalimantan, maka risiko pelepasan karbon ke udara akan memperluas kerawanan kebakaran lahan gambut dan banjir akan semakin luas membentang ke depan di Riau.
      Proses kebakaran
      Kebakaran lahan gambut mempunyai ciri tersendiri yang berbeda dengan kebakaran di areal mineral. Kebakaran lahan gambut tidak berada di atas permukaan yang pemadamannya relatif lebih mudah. Meskipun sumber pertama api tetap dari permukaan melalui sistem pembukaan lahan dengan cara membakar, namun penyebaran api pada lahan gambut berada di bawah permukaan (ground fire).
      Api membakar bahan organik pembentuk gambut melalui pori-pori gambut secara tidak menyala (smoldering) sehingga yang terlihat ke permukaan hanya kepulan asap putih. Dengan karekteristik ini maka pemadaman api akan sangat sulit karena harus dilakukan dari dalam gambut itu sendiri dan dari atas karena penyebaran api di lahan gambut bisa secara horizontal dan vertikal ke atas.
      Apabila api di lahan gambut tidak dapat dipadamkan, api tersebut dapat tetap menyala di bawah permukaan dalam waktu yang lama (bahkan tahunan) dan menyebabkan kebakaran baru apabila cuaca menjadi lebih kering lagi. Api yang menyala di bawah permukaan akan merusak sistem perakaran pohon. Pohon-pohon tersebut akan menjadi tidak stabil dan kemudian tumbang atau mati. Hal ini akan menghasilkan sejumlah besar pohon mati atau sisa tanaman, yang akan menjadi bahan bakar yang potensil bagi kebakaran berikutnya.
      Secara ekologi, pembakaran lahan gambut mempercepat rusaknya lingkungan yang unik dan jasa-jasa ekologi yang dihasilkannya (misalnya pengaturan air dan pencegahan banjir). Pemadaman kebakaran di areal gambut sangat sulit, mahal dan dapat menyebabkan kerusakan ekologi dalam jangka-panjang. Meski pemerintah melalui Keppres No 32 Tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung memberikan perlindungan terhadap lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter, namun hal ini tak otomatis menyelesaikan persoalan gambut. Kian menyempitnya ketersediaan lahan mineral rupanya telah mendorong berbagai praktik pemanfaatan lahan gambut dengan ketebalan di bawah 3 meter oleh para pengusaha (tentu dengan izin pemda).
      Jarang para pengusaha itu memikirkan pengaruh praktik-praktik tersebut terhadap lahan gambut dengan kedalaman lebih dari 3 meter yang nota bene dilindungi. Padahal keduanya tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Pada kenyataannya lahan gambut dengan perbedaan kedalaman tersebut bisa jadi merupakan satu ekosistem atau dalam satu landscape. Kebijakan pemerintah dalam membolehkan pemanfaatan lahan gambut kurang dari 3 meter akan mempengaruhi lahan gambut yang dilindungi (3 meter lebih itu). Cara terbaik untuk mencegah kebakaran di lahan-lahan gambut adalah dengan mengkonservasi mereka dalam keadaan alaminya. Yakni dengan memberikan perhatian khusus terhadap aspek-aspek pengelolaan air yang baik, pemanfaatan lahan yang sesuai, dan pengelolaan hutan yang lestari. Artinya, drainase/pengeringan dan konversi kawasan lahan gambut harus dicegah.
      Perlindungan terhadap kawasan gambut dengan sendirinya akan mengendalikan hidrologi wilayah yang berfungsi sebagai penambat air dan pencegah banjir. Dalam kondisi alami yang tidak terganggu, lahan-lahan gambut mempunyai fungsi-fungsi ekologi yang penting: mengatur air di dalam dan di permukaan tanah.
      Dengan sifatnya yang seperti spon, gambut dapat menyerap air yang berlebihan, yang kemudian secara kontinye dilepas perlahan-lahan. Hal ini menyebabkan air akan tetap mengalir secara konsisten dan karena itu menghindari terjadinya banjir juga kekeringan. Tak hanya itu, perlindungan kawasan gambut akan menjaga keanekaragaman hayati dengan banyak jenis yang unik dan hanya dijumpai di daerah lahan gambut.
      * Alumnus Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan IPB

      Efektifitas pemupukan berhubungan dengan tingkat/persentase hara pupuk yang diserap tanaman. Pemupukan dikatakan efektif jika sebagian besar hara pupuk diserap tanaman. Sedangkan efisiensi pemupukan berkaitan dengan hubungan antara biaya (bahan pupuk, alat kerja, dan upah) dengan tingkat produksi yang dihasilkan. Efisiensi pemupukan terkait dengan tindakan rekomendasi pemupukan dan manajemen operasional. Jadi peningkatan efektifitas dan efisiensi pemupukan dapat dicapai melalui perbaikan manajemen operasional dan rekomendasi pemupukan.


      Disamping itu, pemupukan sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Tanaman menyerap unsur hara dari tanah dan udara. Hara yang diserap dari tanah berasal dari tanah itu sendiri dan dari pupuk yang diaplikasikan. Beberapa hal yang menjadi alasan dilakukan pemupukan adalah: (1) Tanah tidak mampu menyediakan unsur hara yang cukup bagi tanaman, (2) Tanaman kelapa sawit memerlukan hara yang besar untuk tumbuh dan produksi tinggi, (3) Penggunaan varietas unggul yang membutuhkan hara lebih besar, (4) Unsur hara yang terangkut berupa produksi tidak seluruhnya dikembalikan ke tanah. Karena itu pemupukan mempunyai tujuan agar tanaman mampu tumbuh normal dan produksi sesuai dengan potensinya, serta untuk mempertahankan atau meningkatkan kesuburan tanah.
      Tingginya hara yang terangkut oleh tanaman kelapa sawit, dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Unsur hara yang paling banyak dibutuhkan adalah K, lalu berturut-turut N, Mg, P.
      Unsur Hara Dalam Tanaman Kelapa Sawit (Ng and Tamboo, 1967 dalam von Uexkull and Fairhurst, 1991)
      Uraian Kg/Pkk/Th
      N P P2O5 K K2O Mg MgO
      - Diangkut saat panen 0.49 0.08 0.18 0.63 0.76 0.14 0.23
      - Immobil dalam jaringan 0.27 0.022 0.05 0.47 0.57 0.07 0.12
      - Dikembalikan ke tanah 0.53 0.076 0.17 0.69 0.83 0.19 0.32
      Total Hara 1.29 0.178 0.40 1.79 2.16 0.40 0.67
      Persen Hara diangkut per Total 38 45 45 35 35 35 35
      Total Hara/ Ha (148 pkk/Ha) 191 26 59 265 320 59 99
      Hara per Ton TBS 8.0 1.1 2.5 11.0 13.3 2.5 4.1
      Total (Diangkut + Immobil) 0.76 0.102 0.23 1.10 1.33 0.21 0.35
      Equivalent Pupuk 1.65 Urea 0.5 TSP 2.22 MOP 1.3 KIES.
      Produksi 24 Ton/Ha/Th.
      Jumlah pupuk yang diaplikasikan ke tanah, paling tidak bisa menggantikan jumlah hara yang diangkut dan tidak kembali ke dalam tanah. Kondisi ini minimal dapat mencegah terjadinya penurunan kesuburan tanah, dengan catatan tidak terjadi kehilangan hara dari tanah akibat pencucian, erosi, penguapan dsb. Dan sebaliknya jika ingin meningkatkan kesuburan tanah maka jumlah pupuk yang diaplikasi harus lebih besar dari yang diangkut saat panen.
      Banyak hasil penelitian yang telah dipublikasikan bahwa aplikasi pupuk akan meningkatkan produksi secara nyata. Hasil penelitian SMARTRI, diantaranya adalah di libo (LBE-14), memberikan gambaran bahwa peningkatan dosis aplikasi TSP dari 70 menjadi 347 gr/Pkk pada tanaman berumur 1 dan 2 tahun dapat meningkatkan rerata jumlah pelepah dari 48.4 menjadi 54.6. Pada saat produksi, dosis pupuk setara dengan 1.5 kg TSP/pkk/th memberikan produksi terbaik. Peningkatan produksi mencapai 2 kali lipat (100%) dibandingkan pada tanaman tanpa pupuk P.
      PENGELOLAAN PEMUPUKAN
      Pengelolaan pemupukan dimulai sejak pupuk diterima di gudang sampai dengan diaplikasikan di lapangan, yaitu secara garis besar berurutan sbb: Gudang – Penyimpanan – Pengeluaran dari Gudang – Pengangkutan – Pengeceran di lapangan – Aplikasi di lapangan. Agar dilakukan pengawasan dengan tujuan untuk meningkatkan efektifitas pemupukan. Kehilangan pupuk (hara pupuk) dapat terjadi pada setiap tahap kegiatan tsb di atas, baik saat di gudang, pengangkutan, pengeceran, dan saat aplikasi pupuk.
      Gudang
      Di Gudang terjadi 3 kegiatan adalah penerimaan, penyimpanan, dan pengeluaran pupuk. Pada saat penerimaan dilakukan pengecekan tentang jenis, jumlah, dan kondisi pupuk. Pengambilan sample pupuk dilakukan sesuai dengan SOP dan selanjutnya dikirim ke laboratorium SMARTRI-Libo atau Regional Laboratorium yang telah beroperasi di beberapa PKS untuk menentukan kadar hara pupuk. Yang sangat penting, pada saat pengambilan sample juga dilakukan pengamatan fisik pupuk apakah sesuai dengan spesifikasi pupuk, kondisi kemasan dsb.
      Penyimpanan di gudang dipastikan bahwa pupuk tidak terkena air (bocor) dan tidak terekspos sinar matahari langsung (panas). Penempatannya juga diatur sehingga pada saat pengeluaran pupuk dapat dilakukan secara first in first out (FIFO) setiap jenis pupuk. Hal ini akan menjamin bahwa penerapan aplikasi pemupukan berimbang dapat dilaksanakan dengan baik.
      Beberapa permasalahan yang masih dijumpai di lapangan adalah:
      • Kapasitas gudang kurang. Sebagian pupuk disimpan di luar gudang diberi penutup lembar plastik.
      • Penempatan pupuk yang kurang tepat sehingga tidak mendukung pelaksanaan FIFO dan pemupukan berimbang. Seluruh jenis pupuk ditempatkan pada batch yang sama dengan cara penumpukan. Jenis pupuk yang datang pertama akan berada pada posisi terbawah, dst. Akibatnya pergantian jenia pupuk dapat dilakukan setelah habis satu jenis, tidak bisa secara bersamaan beberama jenis pupuk.
      • Pengambilan sample pupuk masih kurang sesuai dengan SOP.
      • Hasil analisa Laboratorium yang terlalu lama.
      Pengangkutan dan Pengeceran
      Pengangkutan dipastikan pupuk aman sampai di blok, tidak terjadi kebocoran di jalan. Pengeceran dilakukan sesuai dengan jumlah pohon setiap baris, serta dosis. Peta titik tanam sangat vital dalam melakukan pengeceran pupuk yang tepat. Pengeceran yang tepat akan sangat menentukan kemudahan pelaksanaan aplikasi dan ketepatan dosis. Pada lokasi tertentu yang masih rawan, diberikan tenaga pengawas khusus terhadap pupuk yang telah diecer di lapangan, karena sangat rawan pencurian. Bahkan jika dipandang perlu, pengangkutan pupuk dari gudang ke Blok diberi tenaga pengawal. Yang sangat direkomendasikan adalah sistim pengeceran dengan until. Pupuk sudah dibut per until di gudang, selanjutnya dilapangan dilakungan pengeceran di CR. Beberapa kebun juga masih menggunakan pengeceran langsung sak pupuk di lapangan.
      Aplikasi Pupuk
      Aplikasi pupuk berpengaruh sangat besar dalam menentukan efektifitas pemupukan. Istilah umum adalah 4 tepat, yaitu: Tepat Waktu, Dosis, Jenis, Cara, dan biasanya masih ditambahkan satu tepat lagi, yaitu Tepat pelaporan (data). Sehingga disebut 4 tepat, 5 sempurna.
      • Waktu
      Pengertian waktu di sini adalah frekuensi pemupukan, selang waktu antar aplikasi pupuk sama jenis, selang waktu antar aplikasi pupuk berbeda, kondisi cuaca dan kelembaban tanah.
      Waktu pemupukan akan sangat menentukan besarnya prosentase hara pupuk yang dapat diserap tanaman dan juga tingkat kehilangan hara pupuk. Pada dasarnya, pemupukan ideal dilakukan pada saat kondisi tanah lembab atau kadar air pada saat kapasitas lapang, yaitu saat awal dan akhir musim hujan.
      Pemupukan kelapa sawit biasanya dilakukan 2 kali per tahun yaitu semester-1 dan semester-2. Frekuensi pemupukan tergantung jenis pupuk dan sifat lahan (tanah & iklim). Misalnya pada tanah pasir umumnya dilakukan pemupukan 3 kali per tahun, sedangkan pada tanah lempung/liat 2 kali per tahun. Pupuk P, umumnya dilakukan pemupukan cukup 1 x per tahun. Waktu aplikasi juga harus memperhatikan jenis pupuk, misalnya antara pupuk ammonium (N) dengan pupuk alkalis; antara pupuk K dan Mg. Selain itu, juga selang waktu antara aplikasi pertama dan kedua untuk jenis pupuk yang sama, serta selang waktu antara jenis pupuk yang berbeda.
      Faktor yang sangat penting adalah yang berkaitan dengan kondisi kelembaban tanah saat aplikasi pupuk. Hal ini akan sangat menentikan tingkat penyerapan hara pupuk oleh tanaman dan kemungkinan kehilangan hara pupuk akibat penguapan, pencucian dsb. Stategi berikut diberikan sebagai pedoman pemupukan saat musim kering dan musim hujan.
      Pemupukan saat musim kering
      Secara umum pemupukan diprogramkan pada bulan dengan curah hujan > 75 mm/bulan. Aplikasi pupuk harus mmpertimbangkan frekuensi dan volume curah hujan dengan ketentuan:
      - Pemupukan dihentikan jika 7 hari berturut-turut tidak terjadi hujan.
      - Pemupukan dapat dilanjutkan segera apabila terdapat minimal 2 hari hujan dengan curah hujan 25 mm atau 1 hari hujan dengan dengan curah hujan 50 mm dalam kurun waktu 7 hari berturut-turut.
      - Pemupukan dihentikan kembali apabila: untuk Urea, segera bila tidak ada hujan dalam 3 hari berturut-turut; untuk pupuk MOP, Kieserite, pupuk mikro segera setelah 7 hari berturut-turut tidah hujan. (catatan: Pupuk RP, Super Fosfat, dan Dolomite dapat diaplikasi karena tidak terjadi penguapan).
      Pemupukan saat musim hujan
      Secara umum pemupukan diprogramkan pada bulan pada bulan dengan curah hujan <>
      - Pemupukan dilakukan pada saat curah hujan <>
      - Pemupukan dihentikan pada saat curah hujan > 60 mm per minggu.
      Kecuali pada kondisi khusus di bawah ini, maka menggunakan pedoman berikut:
      - Pada tanah sangat berpasir, pemupukan diprogramkan pada bulan dengan curah hujan <> 40-45 mm per minggu.
      - Pada areal dengan curah hujan tinggi seperti Papua, Muara Tawas/Kandis, pemupukan dilakukan pada periode curah hujan terendah.
      Berdasarkan data curah hujan selama puluhan tahun terakhir dan berpedoman pada startegi d atas, maka tabel di bawah ini memberikan perkiraan periode program aplikasi pemupukan setiap wilayah. Namun demikian, aplikasi pupuk aktual harus memperhatikan curah hujan di setiap kebun. Diprogramkan aplikasi seluruh pupuk setiap semester dapat diselesaikan dalam waktu 2 bulan.
      • Dosis
      Aplikasi pupuk dijamin bahwa tanaman menerima pupuk sesuai dengan dosis rekomendasi. Ketepatan dosis pupuk dipengaruhi oleh: sistim pengeceran pupuk, alat aplikasi, kondisi fisik lahan (topografi, akses perawatan, dsb), sistim pengupahan, dsb. Pengeceran pupuk disesuaikan dengan kemampuan wajar tenaga angkut manusia dan dosisnya. Alat aplikasi menjamin bahwa alat tsb memiliki keakuratan yang tinggi (variasi rendah) dan mudah digunakan (applicable). Alat dengan luas permukan semakin lebar variasi berat akan semakin besar, misalnya piring akan lebih besar variasi dibanding mangkok, dan mangkok akan lebih besar variasi dibanding tabung. Khusus untuk pupuk HGFB sangat disarankan menggunakan ex. tabung film, pertimbangannya karena memiliki ketepatan yang tinggi (± 25 gr/tab), serta kelipatannya sesuai dengan dosis umum pupuk HGFB yaitu biasanya kelipatan 25 gram. Alat aplikasi juga harus memiliki kelipatan bilangan asli (bukan desimal) dari dosis rekomendasi.
      Dosis atau kuantitas aplikasi pupuk harus mempertimbangkan kapasitas tanah menjerap hara. Jika jumlahnya melebihi kapasitas tanah, maka mendorong terjadinya kehilangan hara pupuk. Oleh karena itu pada tanah pasir, dosis aplikasi cenderung lebih kecil tetapi frekuensi lebih tinggi. Peningkatan frekuensi akan menurunkan resiko kehilangan hara pupuk.
      • Jenis
      Jenis pupuk yang diaplikasi harus sesuai dengan yang direkomendasikan. Jika karena sesuatu hal, maka konversi pupuk dapat dilakukan dengan menghubungi ke SMARTRI. Konversi jenis pupuk, selain mempertimbangkan kadar total hara, juga tingkat kelarutan, sifat-sifat hara pupuk dsb.
      • Cara
      Yang dimaksudkan adalah dimana pupuk ditempatkan/diaplikasikan di lapangan dan cara menabur pupuk. Pertimbangannya adalah agar tanaman dapat menyerap secara maksimal, meminimalkan kehilangan hara pupuk, meminimalkan kompetisi dengan gulma, dsb. Di Perkebunan Sinar Mas dilakukan dengan 3 cara aplikasi yaitu manual, mekanis dengan fertilizer spreader, dan dengan pesawat.
      Hal ini terkait dengan keseragaman (homogenitas) penyebaran pupuk. Pupuk Urea, MOP dan Kies, disebar merata dalam piringan sampai batas luar, sedangkan pupuk P (RP, TSP dsb) ditabur di gawangan mati di atas pelepah untuk tanaman remaja/tua. Tindakan penyebaran pupuk ini adalah dengan tujuan menurunkan konsentrasi hara per m2. Tingginya konsentrasi hara akan berpotensi meningkatkan kehilangan hara pupuk melalui pencucian (leaching) atau aliran permukaan (run-off). Hal ini berhubungan dengan tingkat kapasitas tanah menjerap unsure hara. Sampai dengan saat ini, aplikasi mekanis (pesawat, fertilizer spreader) menunjukkan hasil yang baik, dari produksi dan kadar hara daun.
      KEHILANGAN HARA PUPUK
      Kehilangan hara pupuk dapat melalui beberapa cara yaitu: penguapan (volatilisasi), pencucian (leaching), aliran permukaan (run off), erosi. Jumlah dan proporsi kehilangan hara sangat dipengaruhi oleh sifa-sifat unsur hara itu sendiri, apakah banyak hilang karena penguapan, pencucian dsb.
      • Penguapan
      Kehilangan N pada pupuk Urea akibat penguapan sangat beragam dan cukup tinggi yaitu 4-60%. Beberapa faktor yang mempengaruhi penguapan:
      - Kelembaban tanah: Aplikasi pupuk N pada saat tanah lembab, bukan saat tanah kering atau basah melebihi kapasitas lapang (jenuh air).
      - Pola curah hujan: Pada saat bulan kering dan curah hujan tinggi maka kehilangan N akan meningkat.
      - Jenis pupuk: Meskipun harganya paling murah sebagai sumber N, tetapi pupuk Urea terjadi penguapan yang sangat tinggi apalagi jika tidak segera tercampur dengan tanah setelah aplikasi.
      - Dosis pupuk: Semakin tinggi dosis maka resiko kehilangan hara akan semakin besar (absolut).
      • Pencucian
      Kehilangan hara pupuk akibat pencucian berkisar antara 3-35%. Beberapa faktor yang mempengaruhi pencucian:
      - Jenis hara: Paling banyak adalah unsur N, dan juga K & Mg
      - Tekstur: Tanah pasir dengan sifat sangat rendah daya memegang air dan hara akan terjadi pencucian yang tinggi.
      - Pola curah hujan: Semakin tinggi curah hujan maka potensi terjadi pencucian juga akan meningkat.
      - Dosis pupuk: Mengingat kapasitas tanah menjerap hara terbatas, maka dosis pupuk tinggi akan berpotensi meningkatkan terjadinya pencucian.
      • Aliran Permukaan
      Kehilangan hara pupuk akibat aliran permukaan dapat mencapai 22% dari N pupuk yang diaplikasi dan 12% K pupuk. Tingkat terjadinya aliran permukaan dipengaruhi oleh penutupan permukan dan kemiringan lereng. Pada tanaman TBM dengan penutupan LCC yang baik maka akan menurunkan proses aliran permukaan. Sedangkan jika terjadi suatu areal sangat terbuka misalnya sebagai akibat pemakaian herbisida yang berlebihan, maka aliran permukaan akan meningkat. Semakin curam lereng maka potensi aliran permukaan juga meningkat.
      • Erosi
      Kehilangan hara pupuk akibat erosi adalah sekitar 11% N yang diaplikasi, tetapi umumnya lebih rendah untuk unsur P, K, dan Mg.
      Fenomena kehilangan hara akibat erosi hampir sama dengan akibat aliran permukaan. Perbedaannya adalah pada aliran permukaan, kehilangan hara dalam bentuk terlarut dalam air. Sedangkan yang terjadi akibat erosi adalah kehilangan hara dalam bentuk yang terkandung dalam material tanah. Jadi besar hara hilang sama dengan material tanah yang tererosi. Erosi terjadi pada lapisan atas tanah yang subur.
      PENYERAPAN UNSUR HARA
      Unsur Hara
      Terdapat 17 unsur hara esensial yang dibutuhkan tanaman. Berdasarkan tingkat kebutuhannya dibagi menjadi unsur makro dan mikro. Unsur makro: C, H, O, N, P, K, Ca, Mg, S ; Unsur Mikro: Fe, Mn, B, Zn, Cu, Mo, Cl, Co. Tidak semua unsur tsb dibutuhkan oleh semua tanaman, tergantung dari jenisnya. Unsur makro berarti dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, sedang unsur mikro dibutuhkan dalam jumlah sangat sedikit. Proporsi banyak sedikitnya unsur hara yang diserap tanaman tergantung jenis tanaman. Unsur C dan O diserap tanaman dari udara sebagai CO2 melalui proses fotosintesis sedangkan H diambil dari air tanah (H2O). Unsur lainnya diserap melalui tanah.
      Unsur hara dari pupuk yang umumnya dibutuhkan kelapa sawit adalah N, P, K, Mg, Ca, B, Cu, Zn, Fe. Berdasarkan tingkat kebutuhan tanaman kelapa sawit, unsur hara yang tergolong unsur makro adalah N, P, K, Mg, sedangkan unsur mikro adalah: B, Cu, Zn, Fe.
      Berdasarkan mobilitas unsur hara dalam tanaman dibagi menjadi 2, yaitu unsur mobil dan imobil. Unsur mobil adalah unsur hara yang dapat ditranslokasikan dari jaringan tua ke jaringan muda pada saat jaringan muda tsb terjadi kekurangan hara (defisiensi). Sebaliknya unsur imobil adalah unsur hara yang tidak dapat ditranslokasikan. Imobilitas unsur hara pada tanaman dicirikan dengan munculnya gejala defisiensi dimana defisiensi unsur mobil selalu dimulai dari daun tua (bawah), sedangkan imobil pada daun muda. Unsur mobil: N, K, Mg; unsur imobil: unsure mikro B, Zn, Cu, Fe. Bentuk unsur hara yang diserap tanaman disajikan pada table di bawah ini.
      Unsur Hara Bentuk Diserap Tanaman
      Nitrogen NH4+, NO2-, NO3-
      Fosfor HPO4-2, H2PO4-
      Kalium K+
      Magnesium Mg+2
      Kalsium Ca+2
      Boron BO3-3
      Tembaga Cu+, Cu+2
      Seng Zn+2
      Besi Fe+2, Fe+3
      Belerang SO3-2, SO4-2
      Klor Cl-
      Mangan Mn+2, Mn+4
      Molibdenum MoO4-2
      Absorpsi Unsur Hara
      Unsur hara dalam tanah dapat diserap (absorpsi) oleh tanaman, syaratnya adalah unsur hara tsb harus terdapat pada permukaan akar. Penyerapan unsur hara melalui 3 cara, yaitu: (1) intersepsi akar, (2) aliran masa (mass flow), dan (3) difusi.
      • Intersepsi Akar
      Akar tanaman tumbuh memasuki ruangan-ruangan pori tanah yang ditempati unsur hara, sehingga antara akar dan unsur hara terjadi kontak yang sangat dekat (kontak langsung), yang selanjutnya terjadi proses pertukaran ion. Ion-ion yang terdapat pada permukaan akar bertukaran dengan ion-ion pada permukaan komplek jerapan tanah. Jadi absorpsi unsur hara (ion) langsung dari permukaan padatan partikel tanah. Jumlah unsur hara yang dapat diserap melalui cara intersepsi akar dipengaruhi oleh sistim perakaran dan konsentrasi unsur hara dalam daerah perakaran. Hampir semua unsur hara dapat diserap melalui intersepsi akar, terutama Ca, Mg, Mn, dan Zn.
      • Aliran Masa
      Air mengalir ke arah akar atau melalui akar itu sendiri. Sebagian lagi mengalir dari daerah sekitarnya akibat transpirasi maupun perbedaan potensial air dalam tanah. Gerakan air ini dapat secara horinsontal maupun vertical. Air tanah yang mengalir ini mengandung ion unsur hara. Jadi unsur hara mendekati permukaan akar tanaman karena terbawa oleh gerakan air tsb atau disebut aliran masa, yang selanjutnya diserap tanaman. Penyerapan melalui aliran masaa dipengaruhi oleh: (1) konsentrasi unsur hara dalam larutan tanah, (2) jumlah air yang ditanspirasikan (3) volume air efektif yang mengalir karena perbedaan potensial dan berkontak dengan akar. Aliran masa dapat menjadi kontribusi utama untuk unsur Ca, Mg, Zn, Cu, B, Fe. Unsur K juga dapat diserap melalui aliran masa, meskipun tidak terlalu besar.
      • Difusi
      Proses penyerapan berlangsung akibat adanya perbedaan tegangan antara tanaman dan tanah karena perbedaan konsentrasi unsur hara. Faktor yang mempengaruhi difusi adalah konsentrasi unsur hara pada titik tertentu, jarak antara permukaan akar dengan titik tertentu, kadar air tanah, volume akar tanaman. Pada tanah bertekstur halus difusi akan berlangsung lebih cepat daripada tanah yang bertekstur kasar. Difusi meningkat jika konsentrasi hara di permukaan akar rendah/menurun atau konsentrasi hara di larutan tanah tinggi/meningkat. Unsur P dan K diserap tanaman terutama melalui difusi.
      JENIS, SIFAT, dan CIRI PUPUK
      Pupuk adalah bahan yang mengandung unsur hara yang diberikan kepada tanaman karena dibutuhkan oleh tanaman. Dalam arti yang lebih sempit, pupuk adalah bahan organik dan anorganik yang ditambahkan ke dalam tanah atau disemprotkan pada tanaman untuk menambah unsur hara tanaman dan meningkatkan produksi. Jenis dan sifat-sifat pupuk yang umum digunakan di perkebunan kelapa sawit disajikan pada lampiran.
      Jenis pupuk yang diaplikasikan di perkebunan sinar mas adalah pupuk anorganik (TSP, RP, MOP dsb) dan pupuk organic (JJK, LA, Kompos) yang merupakan limbah PKS (by product).

      Penggolongan pupuk dapat didasarkan pada beberapa hal:

      - Kebutuhan tanaman: pupuk makro dan pupuk mikro.


      Pupuk makro adalah pupuk yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah banyak, yaitu Nitogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), dan Magnesium (Mg). Sedangkan pupuk mikro adalah pupuk yang mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit, yaitu Boron (B), Copper (Cu), Zinc (Zn), dan Ferrum (Fe).
      - Kandungan unsur hara: pupuk tunggal dan pupuk majemuk.
      Pupuk tunggal adalah pupuk yang hanya mengandung satu jenis unsur hara makro. Sedangkan pupuk majemuk adalah pupuk yang mengandung lebih dari satu macam unsur hara makro.
      - Jenis unsur hara: pupuk nitrogen, pupuk fosfat, pupuk kalium, pupuk magnesium, pupuk NPK, dll. Pupuk nitogen adalah pupuk yang mengandung unsur nitrogen.
      - Sumbernya: pupuk alam dan pupuk buatan. Pupuk alam adalah pupuk yang diambil langsung dari alam sebagai bahan tambang tanpa adanya pemrosesan kimiawi. Sedangkan pupuk buatan adalah pupuk yang dihasilkan dari proses secara buatan baik khemis maupun fisik.
      - Reaksi di dalam tanah: pupuk bersifat masam, pupuk bersifat basa, dan pupuk bersifat netral. Ini didasarkan pada pengaruh pupuk terhadap sifat kemasaman tanah.
      - Senyawa kimia: pupuk organik dan pupuk anorganik
      - Bentuk: pupuk padat, pupuk cair, dan pupuk gas


      REKOMENDASI PEMUPUKAN
      Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan produksi kelapa sawit adalah iklim dan unsur hara. Faktor iklim yang terdiri dari curah hujan, temperatur, kelembaban, radiasi, dsb merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan dan dikelola. Sedangkan faktor unsur hara dapat dilakukan pengendalian atau dikelola dengan cara pemupukan dan tindakan kultur teknis.
      Strategi dalam penyusunan rekomendasi pemupukan adalah memberikan unsur hara (dosis pupuk) yang mencukupi dan seimbang pada tanaman sehingga memungkinkan dicapainya produktifitas yang optimum. Untuk mencapai tujuan tsb, diperlukan rangkaian kerja yang saling berkaitan, yaitu:
      - Percobaan pemupukan. SMARTRI telah membangun rangkaian percobaan pemupukan yang menyebar hampir di seluruh wilayah perkebunan pada areal dengan kondisi tanah & iklim yang dominan dan dapat mewakili areal sekitarnya.
      - Pengambilan contoh daun (LSU)
      - Pengamatan defisiensi hara
      - Analisa daun di laboratorium
      - Pengambilan contoh tanah (SSU)
      - Analisa tanah di laboratorium
      - Penyusunan rekomendasi
      - Aplikasi pemupukan yang baik (jenis, dosis, cara, waktu)
      - Data produksi dan pengelolaan kultur teknis
      Semua data tsb diolah dan dianalisis untuk menentukan dosis pupuk yang direkomendasikan.
      Pengaruh pemupukan terhadap produksi memerlukan waktu sekitar 2 – 3 tahun. Selama waktu tsb, segala hal yang menyebabkan tanaman stress akan berpengaruh terhadap produksi. Misalnya tanaman akan cenderung membentuk bunga jantan jika pada saat determinasi sex terjadi stress air. Gambaran mengenai pengaruh stress ini disajikan pada diagram berikut (von Uexkull, H.R. and Fairhust, T.H. 1991)
      Faktor iklim merupakan hal yang sangat menarik dan penting mengingat kondisi iklim sangat menentukan tingkat produksi tanaman. Pengaruh curah hujan dengan produksi digambarkan seperti table di bawah ini dan gambar di lampiran yang merupakan hasil studi Caliman, J. P. di SBYE tahun 1997 dan 1999.
      Kekurangan air akan berpengaruh negatif terhadap produksi sampai dengan 2 tahun ke depan. Penurunan produksi tahun pertama berkisar antara 6-10% produksi normal per 100 mm defisit air dan tahun kedua berkisar antara 2-5% produksi normal per 100 mm defisit air. Besarnya pengaruh defisit air terhadap produksi dipengaruhi banyak faktor yang antara lain: umur tanaman, tingkat produksi saat terjadi kekeringan, fisiologis tanaman dsb. Pengaruh negatif umumnya dimulai 6 bulan setelah terjadi defisit air, misalnya aborsi janjang dsb. Akibat adanya defisit air yang besar, ada kemungkinan akan terjadi perubahan pola produksi.
      Perkiraan Produksi pada th. 1998 dan 1999 (Ton/Ha)
      Water Defisit 1997
      ( mm )
      Umur dan Tahun Tanam
      ± 5/6 – 11 th
      1986 – 1991/1992
      ± 12 – 18 th
      1980 – 1985
      > 18 th
      <>
      Produksi th. 1998


      0 26 28 26
      100 23.5 – 24.0 25.5 – 26.5 24.0 – 24.5
      200 21.0 – 22.0 23.0 – 25.0 22.5 – 23.0
      300 18.5 – 20.0 20.5 – 23.5 20.5 – 21.5
      400 16.0 – 18.0 18.0 – 20.0 19.0 – 20.0
      500 13.5 – 16.0 15.5 – 20.5 17.0 – 18.5
      600 11.0 – 14.0 13.0 – 19.0 15.0 – 17.0
      Produksi th. 1999


      0 26 28 26
      100 24.5 – 25.0 26.5 – 27.5 25.0
      200 23.5 – 24.5 25.0 – 27.0 24.5
      300 22.0 – 23.5 23.5 – 26.5 23.5
      400 21.0 – 23.0 22.0 – 26.0 23.0
      500 19.5 – 22.0 20.5 – 25.5 22.0
      600 18.0 – 21.0 19.0 – 25.0 21.0
      Contoh: SBYE tahun tanam 1992, water deficit th. 1997 sebesar 600 mm, maka perkiraan produksi pada tahun 1998 = 12.5 ± 1.5 ton/ha dan pada tahun 1999 = 19.5 ± 1.5 ton/ha.
      Metodologi kegiatan rekomendasi pemupukan secara umum seperti pada diagram di bawah ini.
      Kondisi geografis sangat menentukan performance tanaman dan kadar hara daun optimum. Sebagai contoh, di areal Bangka, Sumsel kadar K optimum mendekati nilai 1.1%, sedangkan di wilayah Kalsel cukup sekitar 0.95%. Sebagai gambaran umum tabel di bawah ini menyajikan kriteria kadar hara daun.
      Kriteria Kadar Hara Daun pada Pelepah-17 (von Uexkull, H.R. and Fairhust, T.H. 1991)
      Umur Unsur Defisiensi Optimum Kelebihan
      <> N (%) <> 2.6 – 2.9 > 3.1

      P (%) <> 0.16 – 0.19 > 0.25

      K (%) <> 1.1 – 1.3 > 1.8

      Mg (%) <> 0.3 – 0.45 > 0.7

      Ca (%) <> 0.5 – 0.7 > 0.7

      S (%) <> 0.25 – 0.40 > 0.6

      Cl (%) <> 0.5 – 0.7 > 1.0

      B (ppm) <> 15 – 25 > 40

      Cu (ppm) <> 5 – 8 > 15

      Zn (ppm) <> 12 -18 > 80
      ≥ 6 Th N (%) <> 2.4 – 2.8 > 3.0

      P (%) <> 0.15 – 0.18 > 0.25

      K (%) <> 0.9 – 1.2 > 1.6

      Mg (%) <> 0.25 – 0.40 > 0.7

      Ca (%) <> 0.5 – 0.75 > 1.0

      S (%) <> 0.25 – 0.35 > 0.6

      Cl (%) <> 0.5 – 0.7 > 1.0

      B (ppm) <> 15 – 25 > 40

      Cu (ppm) <> 5 – 8 > 15

      Zn (ppm) <> 12 – 18 > 80
      LAMPIRAN
      • Jenis dan Sifat Pupuk
      • Standard Pupuk: SNI dan Sirim Malaysia
      Tabel berikut menyajikan beberapa jenis dan sifat pupuk yang umum dipergunakan.
      Jenis Pupuk Rumus Kimia Kadar Unsur Hara Utama Reaksi Kemasaman Bentuk Warna Kelarutan dalam air Higroskopisitas
      UREA (NH2)2CO 42 – 46% N Sedikit masam Kristral dan butir Putih Mudah larut Higroskopis pada kelembaban nisbi 73%
      ZA (Zwavelzure Ammoniak)/ Ammonium Sulfat (NH4)2SO4 20 – 21% N dan
      21 – 27% S
      Masam Kristal Putih kelam sampai putih kekuningan Mudah larut Higroskopis pada kelembaban nisbi 80%
      Natrium Nitrat (NN) NaNO3 16 % N dan 26% Na Netral sampai basa Kristal Berbagai warna: merah, kuning, kelabu, dan ungu Mudah larut Higroskopis pada kelembaban nisbi 72%
      TSP (Triple Super Phosphate) Ca(H2PO4)2.H2O 44-52% P2O5 Netral Butiran (granul) Abu-abu Dapat larut Tidak higroskopis
      Fosfat Alam (RP= Rock Phosphate) Ca3(PO4)2 Sangat beragam tergantung sumbernya. 25 – 38% P2O5 Netral sampai basa Tepung (serbuk) Tergantung sumbernya. Abu-abu keputihan, merah kecoklatan Kelarutan sangat rendah Tidak higroskopis
      Kalium Clorida (MOP=Muriate of Potash) KCl 52 – 60% K2O, dan 47 % Cl Netral sampai agak masam Kristal Merah, putih kotor Dapat larut Kurang higroskopis, pada kelembaban nisbi 84%
      Kalium Sulfat (ZK=Zwavelzure Kali) K2SO4 49-53% K2O Netral sampai agak masam Kristal Putih keabu-abuan Dapat larut Kurang higroskopis
      Kieserit MgSO4.H2O 27% MgO dan 22% S Agak masam Tergantung sumbernya: Kristal dan tepung Putih keabu-abuan, atau putih Tergantung sumbernya: Agak sukar larut sampai dapat larut Tidak higroskopis
      Dolomit CaMg(CO3)2 18-22% MgO, dan 40% CaO Basa Tepung Putih atau putih keabu-abuan Sukar larut Tidak higroskopis
      HGFB Na2B4O7.5H2O 45% B2O5
      Kristal Putih kotor Mudah larut Higroskopis
      Copper CuSO4.5H2O 26% Cu dan 13% S Masam Kristal Biru Mudah larut Higroskopis
      Zinc ZnSO4.H2O 36% Zn Masam Kristal
      Mudah larut Higroskopis
      Ferrum FeSO4.7H2O 19% Fe Masam Kristal Mudah larut Higroskopis
      15:15:6:4
      15%N, 15%P2O5, 6% K2O, 4% MgO Netral sampai agak masam Butir (granul) Coklat kemerahan Mudah larut Agak higroskopis
      12:12:17:2 12%N, 12%P2O5, 17%K2O, 2%MgO Netral sampai agak masam Butir (granul) Merah kecoklatan Mudah larut Agak higroskopis
      13:6:27:4:0.65B 13%N, 6%P2O5, 27%K2O, 4%MgO, 0.65% B Butir (granul) Mudah larut Agak higroskopis
      DAFTAR SNI UNTUK KOMODIT PUPUK
      No Judul Standar No. SNI Parameter Analisis Persyaratan
      1 Pupuk Amonium Sulfat (NH4)2SO4 02-176-1990 Nitrogen
      Belerang
      Asam bebas sebagai H2SO4
      Air
      Min. 20 %
      Min. 23 %
      Maks. 0.1 %
      Maks. 1 %
      2 Pupuk Tripel Super Posfat (TSP/Ca(H2PO4)2 02-0086-1987 Unsur hara fosfat :
      - Yang diserap sebagai P2O5
      - Yang larut dalam air sebagai P2O5
      - Air
      - Yang larut sebagai H3PO4
      Min. 46 %
      Min. 40 %
      Maks. 4 %
      Maks. 4 %
      3 Pupuk Tripel Super Fosfat Plus Zn 02-2800-01992 Unsur hara fosfat sebagai P2O5 :
      - Total
      - Yang dapat diserap
      - Yang terlarut air
      - Air
      - Asam bebas sebagai H3PO4
      - Zn sebagai ZNO
      Min. 45 %
      Min. 43 %
      Min. 35 %
      Maks. 5 %
      Maks. 5 %
      Min. 0.2 %
      4 Pupuk NPK Padat 02-02803-2000 - Nitrogen Total
      - Fosfat larut asam sitrat 2 % sebagai P2O5
      - Kalium sebagai K2O
      - Jumlah kadar N, P2O5 dan K2O
      - Kadar Air
      Min. 6 %
      Min. 6 %
      Min. 6 %
      Min. 30 %
      Maks. 2 %
      5 Pupuk Amonium Chlorida (NH4Cl) 02-2581-1992 Nitrogen
      Air
      Asam sebagai HCl
      Min. 26 %
      Maks. 1 %
      Maks. 0.08 %
      6 Pupuk Dolomit (CaMg(CO3)2 02-2804-1992 Magnesium sebagai MnO
      Calsium sebagai CaO
      Al2O3 + Fe2O3
      Air
      Silikat sebagai SiO2
      Bentuk tepung :
      - Lolos saringan 40 mesh
      - Lolos saringan 60 mesh
      Min. 18 %
      Min. 30 %
      Maks. 3 %
      Maks. 5 %
      Maks. 3 %
      100 %
      Maks. 50 %
      7 Pupuk Kalium Chlorida (Mriate of Potash/MOP/KCl 02-2805-1992 Kalium sebagai K2O
      Air
      Min. 60 %
      Maks. 0.5 %
      8 Pupuk Mono Amonium Fosfat (MAP/NH4H2PO4) 02-2810-1992 Nitrogen
      Fosfat sebagai P2O5
      Air
      Min. 11 %
      Min. 48 %
      Maks. 1 %
      9 Urea Amonium Fosfat 00-2811-1992 Nitrogen
      Fosfat sebagai P2O5
      Air
      Butiran :
      -Lolos ayakan Tyler 4 mesh dan tidak lolos 16 mesh
      Min 90 %
      10 Pupuk Diamnium Fosfat DAP/(NH4)2HPO4 02-2858-1992 Nitrogen
      Fosfat sebagai P2O5
      Air
      Ukuran butiran :
      - Lolos 6 Tyler mesh tidak lolos 16 Tyler mesh
      Min.18 %
      Min. 46 %
      Maks. 1 %
      Min. 80 %
      11 Pupuk Super Fospat (SP-36) 02-3769-1995 Unsur hara fosfat sebagai P2O5
      - Total
      - Yang dapat diserap
      - Yanglarut air
      - Belerang sebagai S
      - Asam bebas sebagai H3PO4
      - Air
      Min. 36 %
      Min. 34 %
      Min. 30 %
      Min. 5 %
      Maks. 6 %
      Maks. 5 %
      12 Pupuk Fosfat Alam untuk Pertanian 02-3776-1995 Uraian Kualitas A Kualitas B Kualitas C



      Unsur hara fosfat sebagai P2O5
      - Total
      - Larut dalam asam sitrat 2 %
      - Larut dalam asam formiat 2 %
      - Ca dan mg setara CaO
      - R2O3 (Al2O3 + Fe2O3)
      - Air
      - Kehalusan
      - Lolos 80 mesh Tyler
      - Lolos 25 mesh Tyler
      Min. 28 %
      Min. 10 %
      Min. 14 %
      Min. 40 %
      Maks. 3 %
      Maks. 3 %
      Min. 50 %
      Min. 80 %
      Min. 24 %
      Min. 8 %
      -
      Min. 40 %
      Maks. 6 %
      Mas. 3 %
      Min. 50 %
      Min. 80 %
      Min. 18 %
      Min. 6 %
      -
      Min. 35 %
      Maks. 15 %
      Maks. 3 %
      Min. 50 %
      Min. 80 %
      13 Pupuk Super Fosfat (SP-36) Plus Zn 02-4873-1998 Unsur hara Posphor sebagai P2O5
      - Total
      - Larut dalam asam sitrat 2 %
      - Larut air
      - Belerang sebagai S
      - Asam bebas sebagai H3PO4
      - Zn sebagai ZnO
      - Air
      Mi. 36 %
      Min. 34 %
      Min. 30 %
      Min. 5 %
      Maks. 6 %
      0.2 – 0.3 %
      Maks. 5 ppm
      14 Pupuk Borate 02-4959-1999 Boron Oksida (B2O3)
      Natrium Oksida (NaCl)
      Sulfat (SO4)
      Kadmium (Cd)
      Min. 45 %
      Min. 20 %
      Maks. 0.02 %
      Maks. 35 ppm
      15 Pupuk Cair Sisa Proses Asam Amino (Simpramin) 02-4958-1999 Keadaan :
      - Bentuk
      - Warna
      - pH
      - Bobot jensi pada 25°C
      - Total Nitrogen
      - Bahan Organik
      Cair
      Coklat kehitaman
      5.5 - 6.5
      1.10 – 4.0 %
      Min. 8.0 %








      Standard SIRIM’s Malaysia

      Nr. Jenis Pupuk Element Analysis Spesifikasi Reference
      1. Urea
      (granular & prilled)
      CO(NH2)2
      1. Total N
      2. Biuret
      1. Miosture
      d. Ash content
      45.0 % min.
      0.5 % max.(prilled)
      1.0 % max granular
      1.0 % max.
      2.5 % max.
      MS14 part 1 & 2
      UDC661.717.5 -
      631.4
      (first revision)
      2. Ammonium Sulphate
      (NH4)2SO4
      a. Total N
      b. Free Acidity
      as H2SO4
      c. Moisture
      20.5 % min
      0.03% max.
      1.00 % max.
      MS13 : 1993
      UDC661.522. -
      631.841.1
      (first revision)
      3. Ammonium Chlorida
      NH4Cl
      1. Ammoniacal NH4
      2. Chlorida as NaCl
      3. Total P as P2O5
      d. Moisture
      25,0 % min.
      2.0 % max.
      2.0 % max.
      MS1330 : 1993
      UDC661.521
      4. Ammonium Nitrat
      NH4NO3
      1. Total N
      b. Moisture
      25.0%min. (granular)
      35.0%min. (prilled)
      1.0%max.
      MS53 : 1993
      (first revision)
      5. di-Ammonium posphat
      (NH4)2PO4
      1. a. Ammoniacal NH4
      2. Total P as P2O5
      3. Water soluble P as P2O5
      4. Moisture
      18.0% min.
      45.0% min.
      41.0% min.
      2.0% max.
      MS1329 : 1993
      UDC631.859.13
      6. Triple
      Superphosphate
      a. Total P as P2O5
      1. Citric Acid soluble
      P as P2O5
      c. Moisture
      45.0 % min.
      43,0 % min.
      5.0 % max
      SNI-02-2800-1992
      7. Single Superphosphate
      1. Water soluble P as
      P2O5
      1. Free phosphoric acid as P2O5
      2. Moisture
      18.0 % min.
      4.0 % max.
      5.0 % max.
      MS51 : 1993
      UDC631.855
      8. Rock Phospate a. Total P as P2O5
      b Citric Acid soluble
      P as P2O5
      1. Limit of variation
      2. Fluoride
      3. Moisture
      4. Passed of 500um
      28.0 % min.
      7.5 % min.
      5.0 % max.
      3.0 % max.
      1.0 % max.
      95 % min.
      MS46 : 1993
      UDC631.85
      (first revision)
      9. Potassium Chloride
      KCl
      1. Total K2O
      2. Chloride
      3. Moisture
      60,0 % main.
      46,0 % min.
      1,00 % max.
      MS15 : 1993
      UDC631.85
      10. Potassium Sulphate
      K2SO4
      1. Total K2O
      2. Sulphate as SO4
      3. Moisture
      50,0 % min.
      37,0 % min.
      1,00 % max.
      MS16 : 1993
      UDC631.833.2
      (first revision)
      11. Kieserite
      MgSO4.H20
      1. Total MgO
      2. Sulphate as SO4
      3. Moisture
      25,0 % min.
      60,0 % min.
      1,00 % max.
      MS54 : 1993
      UDC631.883
      (first revision)
      12. di-Sodium tetra Borate Pentahydrate
      Na2B4O7.5H2O
      1. Total B as B2O3
      2. Moisture
      46,0% min.
      1,00 % max.
      MS1363 : 1993
      13. Mixture Fertiliser
      1. Total N, P2O5, K2O, MgO
      1. Water soluble as P2O5
      1. itric Acid 2% as P2O5
      1. Free Acidity as P2O5
      2. Free Acidity as H2SO4
      3. Moisture
      10%max.permissible tolerances of quoted value
      10%max.permissible tolerances of quoted value
      10%max.permissible tolerances of quoted value
      2.0% max.
      1.0 % max.
      5.0% max. (if contain
      TSP & SP)
      MS644 : 1980
      UDC631.8